“Hoaheeeemmmm”.. Kuliah siang ini terasa sangat berat. Setan-setan halus menggelayut manja di mata. Terlebih duduk di baris terakhir, seakan melengkapi alasan untuk merehatkan mata sejenak. Namun, baru sebentar saja Rosi mengatupkan mata, tiba-tiba seseorang memanggilnya dari arah depan. Bukan kepalang kagetnya, karena yang memanggil adalah orang yang sudah lama ia kagumi.
Namanya Ihsan, pemuda tampan dan memiliki kecerdasan maksimal. Siang ini, dia dan kelompoknya tengah presentasi mata kuliah layanan perpustakaan. Yaaah, mata kuliah yang sedikit membosankan dibanding mata kuliah yang lain. Ditambah presentasi, rasanya seperti rebahan di kasur empuk, lalu didongengkan cerita sleeping beauty sebagai pengantar tidurnya.
“Kami persilakan kepada mbak Rosi untuk menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Perpustakaan di Luar negeri. Ini terkait perbandingan layanan yang diterima pemustaka di negara kita dengan negara tetangga”
“Degg”
Tiba-tiba saja jantungnya serasa berhenti berdetak. Kaget bukan main. Mata kantuknnya kembali melebar membentuk bulatan sempurna, khas gadis Bali.
“sss...sssaaa..saya?” tanyanya kembali, meyakinkan pernyataan tadi memang ditujukan untuknya.
“Iya.. silakan mbak” jawab Ihsan mantap.
Rosi memang pernah menjadi backpacker beberapa bulan lalu. Tak banyak negara yang dikunjungi, hanya sebatas Singapura. Dia langsung berusaha mengorek memoar perjalanannya, dan menceritakannya berurutan. Teman-teman yang lain mulai memperhatikan dengan saksama.
***
Awan mendung dan hujan deras asyik menyambut pagi ini. Matahari terlihat enggan menampakkan raut cerianya. Hembusan angin kencang mengawani perbualan kecil dua mahasiswa rantauan, yang sedang bersiap-siap menjinjing ransel menjadi seorang backpacker.
Rosi baru saja melakukan check-in online, lalu mengamati boarding pass di tangannya. Tanggal 19 Januari 2015 pukul 14.00 WIB, tertulis rapi di atas tiket pesawat berrute Yogyakarta-Johor Bahru.
“tiga hari lagi.” Desisnya.
Memang, bulan ini termasuk musim penghujan. Sebenarnya tak jadi masalah untuk Rosi, namun ia belum siap menerima sensasi guncangan saat turbulensi di atas pesawat.
Belum lagi, trauma psikis yang ia terima saat ini. Pesawat dengan maskapai sama beberapa bulan lalu jatuh di perairan Selat Karimata. Jalur persis yang juga akan ia lewati.
“Cha, gimana dong, aku enggak jadi berangkat aja lah” ujar Rosi ketakutan setengah mati.
“Alah kau ni, macam anak TK. Udah optimis aja, masak pesawat terus-terusan jatuh” jawab Icha ketus, sembari terus merapikan baju dan memasukkannya ke dalam ransel besar. Ia tengah bersiap-siap.
“Tapi nanti kalau turbulensi macam mana?” Rosi masih ngeyel, bak anak kecil yang terus mencari jawaban yang bisa menenangkannya.
“Udah pergi sana, rapikan baju kau, tiga hari lagi kita berangkat” Icha mendorong Rosi perlahan keluar dari kamarnya.
“Oh ya, jangan lupa paspor kau dikopi, sekalian sama KTP juga. Biar nanti kalau ada apa-apa, kita gampang diidentifikasi” Tambahnya.
Rosi menelan ludah. Tak mampu ia menyimpan wajah pucat pasinya. “Pesan macam apa itu,” gerutunya dalam hati.
Icha tertawa lebar melihat tingkah aneh temannya yang penakut itu.
***
Hari ini tanggal 19 Januari 2015. Jadwal terbang Rosi dan Icha ke Johor Bahru, Malaysia. Pagi ini cuaca mendung, tapi tak hujan. Rosi masih terus menatap langit, berharap hujan tidak akan turun. Setidaknya sampai pesawatnya lepas landas.
Jam menunjukkan pukul 13.45 WIB. Cuaca masih sama. Rosi dan Icha memasuki kabin dan mencari-cari tempat duduk mereka. Hawa dingin mulai menyeringai dan membuat menggigil. Beberapa menit kemudian, pramugari mengumumkan agar penumpang mengencangkan sabuk pengaman, pertanda pesawat akan lepas landas. Semua penumpang sibuk masing-masing, lalu serentak menghadap ke depan, tegang. Terlihat Pramugari dan pramugara mendemonstrasikan alat-alat keselamatan dalam pesawat beberapa saat kemudian.
Pesawat mulai mengudara sempurna, candi Prambanan mulai mengecil. Semenit.. Dua menit.. tiga menit.. empat menit.. lima menit.. cuaca sisi kiri dan kanan jendela pesawat mulai menghitam.
“Perhatian, sebentar lagi kita akan melewati cuaca buruk. Penumpang diharapkan tetap tenang. Silakan kembali ke tempat duduk dan kenakan kembali sabuk pengaman Anda. Terima kasih.”
Benar saja, pesawat mereka mengalamai turbulensi. Turuuuunnn.... Naiiiikkkk... Turuuunn... Semua penumpang mulai panik dan mulai menjerit. Rosi tak hentinya berkebit melantunkan doa-doa yang dihafalnya, tak terkecuali do’a makan. Dia melirik ke kursi sebelah memastikan Icha baik-baik saja.
“Alamaaaak, kondisi kayak gini, kau sempat pulak tidur, cha!!”
Rosi masih tak habis pikir dengan si Icha, yang lebih memilih tidur ketimbang mengikuti orang menjerit-jerit. Rosi memegang erat kursi di depannya, berharap peristiwa ini cepat berakhir sembari terus berdoa.
Lima menit turbulensi, akhirnya kondisi kembali tenang. Rosi mengelus dada dan mengucap syukur. Pendaratan mulus setelah pesawat mengudara selama dua jam. Tulisan Besar “Senai International Airport” menyambut kedatangan mereka, lalu menghambur mengikuti penumpang lain.
Waktu menunjukkan Pukul 16.00 waktu setempat. Bus Causewaylink menjadi pilihan mereka untuk bertolak ke Singapura, yang memakan waktu sekitar satu jam.
***
Jam menunjukkan Pukul 08.00 waktu Singapura. Hostel “Backpacker Inn” masih saja tenang, tak berubah sejak malam tadi.
“Kau sudah siap cha, ayo berangkat” ujar Rosi sembari merapikan jilbab hijau yang dikenakannya. Menjinjing ransel kecil, lalu menatap teman backpackernya, Icha.
“Siap, boss.. Let’s Go” Balas Icha mengacungkan jempol. Dia tampak rapi dengan jeans dongker, dikolaborasikan jilbab pink motif bunga.
Lokasi-lokasi yang akan dikunjungi mereka hari ini sudah tersusun rapi. Lengkap dengan rute MRT (Mass Rapid Transit), dan peta di sisi kanan ransel. Mereka tak ubahnya Dora the Explorer.
“Excuse me, please give me two Singapore Tourist Pass for two days”
“Okey, S$32. Thank you”
Mereka membeli STP (Singapore Tourist Pass) untuk dua hari. Menghemat biaya transportasi, karena dengan kartu tersebut sudah tidak membayar biaya transportasi lagi selama dua hari. Destinasi pertama sudah mereka tentukan. “Bugis Street”. Sebelum menaiki MRT, mereka berdua mematung di depan papan jalur MRT.
Sebenarnya yang mereka lakukan adalah berusaha memahami bagaimana cara mencari dan menentukan rute. Rosi mulai menarik kacamata, lantas mengucek matanya berulang-ulang. Icha tak kalah ekspresif, dia mulai memicingkan mata, berharap dengan tingkah tersebut mereka berdua mendapat ilham langsung paham dengan rute-rute yang sangat rumit itu. Sepuluh menit.. dua puluh menit.. dan “Alamaaaak, macam ni pun kau tak paham?” Icha menepuk keras pundak Rosi.
“Kau biasa aja Cha, mau copot jantungku kau buat” jawabnya setengah menjerit.
“Yok lah, jangan buang-buang waktu. Jauh-jauh kau datang ke Singapore cuma buat numpang bengong? Helloooo... noh, Di depan Candi Prambanan aja, mana tau kau juga langsung jadi candi” Icha memilih meninggalkan Rosi yang masih memandangi papan rute. Bingung. Terpaku.
Tak lama kemudian, pintu penumpang terbuka. Semua orang berkerumun memasuki MRT dan melirik kiri kanan, mencari tempat duduk kosong. Rosi memilih berdiri dan memeluk tiang yang ada di tengah. “Naseb..naseb.. nggak ada abang-abang, tiang pun jadi” gumam Rosi dalam hati, lantas tertawa keras. Semua orang menatapnya aneh, ada yang bergidik juga. Rosi langsung salah tingkah, dan berpura-pura membetulkan tali sepatunya. Icha menatapnya tajam, mengeluarkan jari telunjuk, menggeseknya dari sisi leher kiri ke sisi kanan. “kheekkk” katanya pelan.
***
Lima menit perjalanan terasa sangat singkat, dan pintu terbuka otomastis. Rasanya baru saja Rosi memeluk tiang, kini sudah ada di destinasi pertama. Bugis Street. Rosi membentangkan peta yang tadi ada di sisi kanan ransel, dan langsung berjalan mengikuti arah. Icha yang tidak tahu menahu soal arah hanya bisa mengekor di belakang Rosi. Asyik memfoto sana-sini, Icha meringsek menabrak Rosi yang berhenti mendadak. “Kau betul sikit lah denganku. Apa pula kau berhenti tiba-tiba. Kalau kepalaku bocor, macam mana?”
“Alah kau cuma bocor pun sibuk, dekat-dekat sini banyak lah tukang tambal ban kurasa. Eh Cha, kau liat ini, kayaknya ini lah lokasi yang ada di peta ini.” Icha mengernyitkan dahi, lalu berusaha mencocokkan berkali-kali posisi peta dengan lokasi yang ada di depannya. Senyumnya mengembang. Mereka berdua saling menatap, lalu melompat berbarengan. “Uhuy, berhasil..berhasil..widirit” Icha mulai menyanyikan lagu legendaris dari Dora the Explorer. Orang-orang di sekitar menatap aneh dan menggeleng-gelengkan kepala. Namun, mereka tak peduli dan langsung menghambur ke lokasi tujuan.
Bugis street terkenal sebagai pusat belanja oleh-oleh yang terjangkau. Ratusan bahkan ribuan wisatawan setiap hari mendatangi lokasi ini. Masing-masing mereka terlihat sibuk memilah, memilih, dan menawar barang yang hendak dibeli. Tak terkecuali Rosi dan Icha. Berbekal bahasa Inggris pas-pasan, mereka menawar sadis tanpa ampun kepada penjual. Alhasil, mereka kena damprat sana-sini. Dalam waktu dua jam, hanya dua miniatur kecil seharga $S5 yang bisa mereka kantongi.
***
“Ros, kok kakiku perih ya? Kayaknya lecet deh.”Icha menatap dengan wajah iba. Dengan alat seadanya, Rosi membantu Icha menyumpal luka lecetnya dengan tisu. Tak berapa lama, Icha kembali meringis. Celakanya, tisu tadi ternyata diterbangkan angin. Dengan kekuatan penuh, mereka berdua berlari mengejar tisu tersebut sambil berteriak “Alamaak.. denda 1000 dolar. Tolong anakmu ini maaaak”.
Tingkah konyol tersebut mewarnai perjalanan mereka menuju destinasi selanjutnya, Perpustakaan Nasional Singapura. Lokasinya tak jauh dari Bugis Street, sekitar sepuluh menit bagi pejalan kaki. Rosi yang memang mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan tak ingin membuang kesempatan langka ini, meskipun masih sedikit ngos-ngosan. Perpustakaan tersebut terdiri dari tiga belas lantai. Ruang perpusatakaan utama berada di Lantai satu. Semua pengunjung bisa membaca disini, namun hanya para anggota saja yang bisa meminjam buku.
Di sudut kanan perpustakaan terdapat gua kecil yang berhiaskan bunga-bunga rindang. Tapi itu bukan bunga sungguhan, Hanya replika. Di dalam gua tersebut, terdapat replika pohon kuning besar, berdaun lebat yang dibuat dari botol bekas. Dibawahnya ramai berlarian dan duduk berjajar rapi beberapa balita lucu, bermata sipit dan memiliki pipi tembem, juga berkulit putih. Tak lain, gua ini adalah corner khusus untuk anak-anak. Rosi sangat menikmati ruangan ini. “jepreettt”.. “Jepreeett”.. hasrat ingin mengabadikan seluruh sudut ruangan ini sudah tak terbendung lagi oleh Rosi. Bahkan, pustakawan yang ada disana pun turut diajak berfoto.
Di sisi luar perpustakaan, terdapat ruangan khusus buku berbahasa Arab, ruangan baca untuk lansia, serta beberapa ruangan khusus lain. Puas dua jam berkeliling, Icha mengajak Rosi untuk melanjutkan perjalanan.
***
Destinasi terakhir yang mereka kunjungi hari ini adalah Merlion Park. Yah, semua orang tahu di lokasi inilah letak Merlion, si Ikan berkepala singa yang menjadi Landmark Singapura. Hanya menempuh waktu sekitar 15 menit dengan MRT, para pelancong sudah bisa menjangkau tempat ini. Sebelum ke pusat patung, pengunjung akan disuguhi pemandangan sungai yang mempesona dari atas jembatan. Dari sini, pengunjung bisa melihat Marina Bay, gedung pencakar langit yang diatasnya berbentuk kapal layar. Rosi dan Icha tak lupa mengabadikannya. “woohooooo... Cha, kau tengok lah tu. Baru kemarin ku tengok dia di mbah google, eh sekarang udah ada di depan mata” Rosi kegirangan sambil menunjuk-nunjuk merlion dari kejuauhan.
“Kau ni, katrok” Jawab Icha ketus. Tapi Rosi tak peduli. Dia tetap kegirangan, lantas lari-lari kecil menuju patung Merlion. Icha masih sibuk dengan DSLR yang dibawanya. Sesampainya di Merlion Park, Icha dan Rosi berebut untuk berfoto. “Kalau kau mau pulang selamat, fotokan aku dulu” Icha memaksa Rosi untuk mengambil gambarnya terlebih dahulu. Apa daya, ancaman Icha sedikit membuat Rosi bergidik, dan dia pun mengalah. Jeprattt...jepreettt...jeprat..jepret... Beratus-ratus gambar sudah mereka ambil.
Di pelataran Merlion Park, mereka berdua memutuskan untuk rehat. Mereka kompak melepaskan sepatu dan memilih nyeker, membiarkan kakinya rileks sejenak.
“Eh Cha, kok kau bisa tidur sih pas turbulensi kemarin? Semua orang panik, kecuali kau”
“Emang kapan pesawat kita kena turbulensi?”
“Aih makjang, kau tidur macam apa aja. Goyang sebegitu keras kau tak rasa?”
Mereka berdua menghabiskan waktu sore di samping patung Merlion sambil berbual kecil. Relaks. Mereka menunggui Singapura di malam hari untuk menyaksikan pertunjukan laser yang ditawarkan dari Marina Bay.
***
“Yah, seperti itu lah perbedaan yang saya temukan antara perpustakaan disini dengan perpustakaan di Singapura.”
Teman-temannya yang lain memberikan applause dan apresiasi kepada Rosi yang penakut, menjadi seorang backpacker. Sebagian besar sulit mempercayainya.
Rosi tersenyum. Matanya sudah tak mengantuk lagi. Ihsan memandanginya, dan Rosi membalas pandangannya. “Baiklah, kita akhiri perkuliahan siang ini, kita lanjutkan Minggu depan” Suara dosen membuat pandangan mereka beralih.
“Kau hebat, Ros!! Padahal kau kan penakut!!” Ihsan mengiringi langkah Rosi keluar dari kelas dan memulai percakapan. Wajahnya terlihat sedang menggoda.
“Heh, enak saja kau bilang. Setidaknya aku selangakah lebih maju dari kau!!” Kali ini Rosi menjawab dengan mendelikkan mata.
“Ampun..ampun.. Jangan marah lah nyonya!! Kau terlihat makin seram kalau cemberut gitu” satu..dua..tiga.. Ihsan lari menghindari tangan Rosi yang penuh buku hendak menghantamnya. Mereka berlarian mengejar satu sama lain sampai tak terlihat lagi oleh mahasiswa-mahasiswa lain.
sabung ayam online
BalasHapus