Sabtu, 15 Agustus 2015

Serba Tua

Lama nggak nulis, tiba-tiba muncul ide nulis tentang rumah datok (baca; kakek) yang serba tua, kenapa ??
Mungkin efek usia saya yang udah mulai tua juga kali ya?
pantengin terus, check this out..

1. Rumah Tua
Kami orang Bali beretnis Melayu. Oleh karena itu, "dulu" rumah-rumah disini kebanyakan berjenis rumah panggung. Juga rumah datok saya, yang termasuk beberapa rumah panggung yang masih bertahan di kampung kami. Rumah ini dulunya milik ayahnya kakek ayah saya, mmmm... kalo ditempat kami disebut "buyut". Lalu diturunkan ke generasi-generasi berikutnya. Nggak nanggung2 loh, usianya 100 tahun lebih.. wuihh..
Penasaran?? ini sedikit penampakannya
Tampak depan dengan ukiran khas Melayu
source: dok. pribadi
dinding rumah
source: dok. pribadi

Pintu ruang tamu
source: dok. pribadi

2. TV tua
LED?? LCD?? udah sering kali ya liatnya. Nah, pernah nggak sih liat tv tua setua-tuanya?
tv tua dan perangkatnya
source: dok. pribadi

Saya nggak tau usia tv ini, cuma dari segi visual udah nampak tuaaa sekali, ya 11:12 lah dengan wajah saya. Konon, tv ini berlayar hitam-putih. Sayang sekali sekarang udah nggak bisa dinyalakan lagi.

3. Foto Tua
narsis sedikit nggak masalah kan? saya mau bahas foto ni
Gambar.2 (usia 9 tahun)
source: dok. pribadi

gambar.2
source: dok. pribadi

gambar tersebut (gambar.1) merupakan foto saya 12 tahun lalu.. ah nggak usah panjang lebar lah bahasnya, leave it!!
Di gambar.2, ada foto Almarhumah neneknya ayah, nggak tau juga sih berapa usia foto tersebut, bisa diperkirakan usianya??

4. Lemari Tua
Mengikuti usia tua rumah, perabot-perabot di dalamnya pun nggak bisa dibilang muda. Salah satunya lemari.
Nggak cuma lemari, isinya pun cukup tua. Goresan-goresan ilmu yang kakek saya dapatkan saat nyantri puluhan tahun silam, serta tulisan-tulisan berbagai hal karena memang kakek saya seorang penulis. Juga berbagai kitab-kitab yang usianya menyesuaikan.
Kitab berusia tua
source; dok. pribadi

Lemari Tua
source: dok. pribadi

tulisan karya datok
source: dok. pribadi

Setelah datok saya meninggal, kini tulisan-tulisan beliau dihimpun dan diterbitkan menjadi sebuah buku, yang bertemakan besar masuknya Islam di Kabupaten Jembrana.

Sekian tulisan saya, semoga pembaca juga tak lantas ikut menjadi tua..
Salam..

Jumat, 07 Agustus 2015

Gelar "Aunty"

Aunty Hana. Aku dapat "gelar" itu sekarang. Biasanya, orang Melayu seperti aku dipanggil berdasarkan urutan anak dalam keluarga. Anak pertama dipanggil "Long".. anak kedua dipanggil "Nga".. anak ketiga dipanggil "Oman".. anak keempat dan seterusnya dipanggil "Encu"..
Seharusnya sih aku dipanggil "Oman Hana".. cuma, sedikit kekinian enggak masalah kan? hehe.

Senyumku tak lepas-lepas dan terus melekat sampai aku benar-benar berhenti di depan rumah. Enggak bisa terdefinisikan bahagia yang aku rasakan. 

Kenalkan, namanya Sintya Ika Putri, teman karibku atau kata lain sahabatku saat SMA, teman sebangku pula. Susah senang tak pernah saling meninggalkan. kami masih berkomunikasi baik setelah lulus SMA. Beberapa hari lalu, aku mendapat kabar bahagia darinya. First time. Berjuang melahirkan baby pertamanya.

Sore ini, aku dan 3 sahabat lain kerumahnya, melihat keponakanku. Namanya Sherly Salsabila, lahir 3 Agustus lalu. Mata kecilnya terpejam, khas baby pada umumnya. aku lihat wajah ibunya menunjukkan rasa bahagia yang teramat, lebih-lebih saat melihat malaikat kecilnya.

"Jadi tante aja udah kek gini bahagianya, apalagi jadi ibu ya?..  iri? iyalah.. perempuan mana sih yang enggak pengen punya baby? terlebih kalau ngeliat tangan dan kaki mungilnya. Lantas? ah, tanggung jawabku dengan orang tua belum selesai. baru semester 5 pun, sabar je lah"

haha, aku mentertawakan argumen singkat yang aku buat dalam hati.
Beberapa kali sebelumnya aku pernah menggendong baby, jadi nggak terkesan "kaku" saat sherly ada di tanganku.
Source: dok. pribadi

"Cepat gede nak, jadi anak yang solehah" doaku..

Ibu.. tak ada lagi yang bisa dibanggakan kecuali sang anak. perjuangannya merawat sang janin, menjadi jalan untuk menguatkan ikatan antara ibu dan anak. 
Ibu.. tak banyak hal yang ingin dibuat, ingin membahgiakan sang anak saja sudah cukup.
Temanku sudah merasakannya, bahagianya menjadi seorang ibu, terlebih saat melihat si kecil tersenyum..
Tantenya aja bahagia, apalagi ibunya??