Sabtu, 28 Maret 2015

Jakarta dalam kacamataku



Bagiku, backpacker punya arti yang dekat dengan “menggembel”. Maksudnya, dengan budget minim bin maksain masih bisa menjelajah tempat destinasi.
Aku, May, Desi, Rin, Arum.
Jakarta!! Yah, itulah destinasinya. Sepele memang untuk sebagian orang. Tapi bagi kami yang belum sempat menjelajah ibukota negara ini, tentulah itu bakalan jadi momen yang penting.
Nggak jelas kapan kita mulai ngomongin backpackeran ke sana. Aku masih ingat jelas, Kejadiannya beberapa menit sebelum perkuliahan berikutnya dimulai. Yang awalnya cuma omong kosong, tiba-tiba saja kita sepakat buat fix pergi 3 minggu lagi. Bahkan setan saja, mungkin enggan mikirin temannya yang mana yang sudah nyamperin kita, kenapa bisa kita mengambil keputusan secepat itu.
Rin, temanku yang satu ini patut diacungi jempol dalam hal menghasut orang lain. Faiz, Kunto, Bastian, fajar dan Yeni tiba-tiba saja mengangguk untuk join. Untuk kedua kalinya, setan mungkin masih enggan mikir, atau bisa jadi malah garuk-garuk kepala.
Kami membentuk lingkaran. Uang seratus lima ribu rupiah kami taruh layaknya manusia yang tengah main kartu remi. Modal sudah terkumpul dan siap ditukarkan menjadi karcis. Aku dan May seakan kerasukan “ini gila, ini rencana gila” disambut dengan gelak tawa kita yang mungkin bikin bergidik orang sekitar.
--3 Minggu—
Ini dia hari yang ditunggu!! Welcome to Jakarta
Yup, ransel, bungkusan makanan, kamera, dan buku siap jadi pelengkap backapckeran. Sengaja kita bawa makanan dari Jogja dengan dalih nggak ngeluarin uang buat makan di Jakarta. Sedikit cerdas untuk orang yang hemat (nggak punya uang tepatnya).
Malam di kereta-pagi di Jakarta-malamnya lagi sudah otewe pulang, piye? Cerdas bukan?
--Masjid Istiqlal—
Tau Begal kan? Yah, itulah yang ada di pikiranku. Setelah shalat Isya di stasiun kami berencana menunggu subuh depan stasiun sembari mengampar koran untuk duduk, lalu makan bersama.
Ringkas cerita, sebelum subuh kami mutusin buat berangkat ke Masjid Istiqlal berjalan kaki bermodalkan GPS. Sebenarnya, kami berencana naik busway, tapi selternya ternyata masih gelap.
Gelap!!
Lorong-lorong yang kami lewati sangat horor. Orang gila yang ada di sisi kiri dan kanan jalan, cukup membuat kami memutuskan untuk bungkam. Beberapa meter setelah berjalan, tiba-tiba muncul suara keras.
BUG!!
Dalam hati langasung berpikr, jangan-jangan begal. Masih dalam posisi bungkam, kita saling pandang satu sama lain. Dengan memberanikan diri kita langsung melihat ke belakang, dan ternyata..... Faiz jatuh!!
Hahaha.. bungkam kami langsung pecah. Maaf ya Faiz, tertawa kami Cuma spontanitas.
Tawa itu terus kami bawa sampai ke masjid Istiqlal.
--Monas—
Tentu saja jalan kaki. Dengan jinjingan tas ala backpacker, kami tiba di monas.
“fotoin aku dong” “abis itu fotoin aku ya?” yaaahh... nada-nada narsis memang kental di lokasi destinasi. Pucuk emas Monas bersedia menjadi background foto, dan kami berlomba-lomba mengoleksi foto sebanyak-banyaknya. Setelah itu, kami lelah.
Tapi ada satu hal yang bikin kami semangat. Bus tingkat, dan itu GRATIS. Bukannya menikmati perjalanan, kami malah tertidur pulas di dalam, entah efek AC, atau memang karena kelelahan. Tiba-tiba “ayo cepat, kita harus keluar dari sini” yaelah, Rin mengigau, mungkin terlalu lelap.
--Museum Nasional—
Rumah Adat, pakaian adat, senjata tradisional, archa tua, dan teknologi sederhana manusia purba. Memandang itu semua sudah sedikit membuat kami terhibur.
“Eh, rumahmu yang mana? Yang itu bukan?” mirip seperti anak-anak memang. Kami saling menunjuk miniatur rumah dari daerah kami masing-masing. Tak jarang juga pakaian ataupun perangkat lain, kami jadikan sebagai media bullying. Hehe sorry guys. 

--Perpusnas—
Ini dia destinasi utama. Gedung dengan beberapa lantai ini memaksa kami menggunakan lift sebagai media pengangkut. Lucunya, semua lebih mirip orang yang sudah meneguk alkohol. Teler. Alhasil, fokus kami buyar untuk mengamati beberapa sudut yang sebenarnya menarik perhatian. Katalog kartu, naskah kuno, OPAC, dan serial. Tiap sisinya mempunyai harum perpustakaan yang khas.

--Kota Tua--
Tua ya? Iya, kalau muda, mungkin namanya akan berubah menjadi “kota muda”. Kami menggunakan KRL untuk sampai kesini. Dari perpusnas jalan kaki sekitar setengah jam, membuat kaki sedikit gempor dan fokus semakin buyar. “Desi, nanti kalo sudah di stasiun, kita naik KRS ya?” Mungkin Faiz lelah.
“KRS? KRL kelesss!!”
Kota ini benar-benar tua. Bangunannya, pemikirannya, dan segala yang ada di sini. Sisi kiri dan kanan jalan dipenuhi bangunan tua, di tengahnya penuh sesak dengan pedagang dan pengunjung.
“ini mirip sunmor di UGM” bisikku.
Anak-anak, remaja, orang tua, semuanya bersaing menarik perhatian pengunjung. Tujuannya tak lain untuk mencari nafkah.

Itu dia sedikit aktivitas backpacking ku di Jakarta. Sehari saja aku sudah kelelahan, sempat aku bayangkan lelahnya bapak tua dekat stasiun Manggarai tadi yang menjinjing karung, dia terlihat lusuh dan tengah memegangi perutnya. Aku nggak tau apa yang dia rasakan. Juga paman penjual minuman di Monas yang beberapa kali aku panggil namun tidak juga menegapkan badan dan menanyakan apa yang akan aku beli. Dia lebih memilih tidur dan tidak mengacuhkanku. Mungkin paman itu sedang rehat, atau dia sakit? Aku melihat nafasnya tidak beraturan dan menggigil. Atau jangan-jangan dia pingsan?
Entahlah, satu pelajaran penting yang aku dapatkan dari perjalanan ini. Lihatlah ke bawah kawan, maka kita akan lebih banyak bersyukur. Ternyata masih banyak orang yang berusaha mengikat perutnya agar tak terasa lapar, membuka paksa matanya agar tetap mampu menafkahi keluarga, menopang badannya agar tetap mampu berjalan meskipun terhuyung. Dan satu pengetahuan penting juga yang aku dapatkan. Hidup di Jakarta itu keras, kesenjangan sosial sangat mudah dilihat.




Jumat, 27 Maret 2015

Penghambat Sukses Move on


MANTAN? Siapa dia? Kamu pura-pura amnesia atau pura-pura ingat?
Kalau bahas kenangan sih bawannya pegang dada mulu, trus ngomong sendiri “nggak luka, tapi kok sakit ya?”
Ada beberapa hal yang mesti kamu jauhin kalo masih sesak nafas pas nginget-nginget masa lalu, apa aja? Ini dia,,
  • Lagu
Hal pertama adalah lagu. Pernah nggak kamu nyanyi bareng dengan doi? Atau kalo suaramu fales, kamu yang dinyanyiin doi? Atau kalo suara kalian berdua fales, kalian dengerin lagu bareng, pernah nggak sih?
Pernaaaaahhhhh,,,
Yup, sebagian besar pasti punya kenangan dengan lagu. Nggak Cuma dengerin berdua aja sih yang bikin keinget terus dengan kenangan, bisa juga kamu muter lagu pas momen-momen bahagia di masa lalu. Nah lagu ini ni yang nantinya bakalan bikin kamu susah nafas kalo sudah harus ngelupain masa lalu dan sengaja kamu puter lagi. Mending jauhin deh!!
  • Parfum
Biasa sih kalo jumpa dengan orang yang spesial, pasti pakek parfum seliter. Padahal mereka nggak tau aja sih kalo nantinya bau wangi itu bakalan jadi bau yang paling bikin enek di momen mengenang masa lalu. So, buat kamu yang belum move on lahir batin, jangan deket-deket dengan parfum doi ya, kalo bisa orang lain yang makek parfum yang sama pun jangan kamu deketin. Takutnya kamu nggak kuat nahan emosi, kasian juga korbannya orang tak dikenal.
  • Foto bareng doi
wah wah, benda satu ini emang paling terkenal horornya. Gimana nggak? Ngeliatnya aja udah bikin jantung kamu dag dig dug. Bahkan kalo ngeliatnya lama-lama, yakin bikin kamu berusaha cari kamera dan melambaikan tangan, “nggak kuat mas!!”
so, hati-hati ya guys dengan benda ini.
  • Barang pemberian
Pernah dikasi bunga? Boneka? Baju? Dompet? Atau rumah?
Jauhin deh mending..  atau sumbangin aja ke orang yang lebih membutuhkan.
  • Pesan singkat
Bagi kamu yang hobi ngoleksi sms yang jumlahnya bisa sampek ribuan di hp, pikir-pikir lagi deh, sampai kapan kamu mau dihantui terus sama kenangan? sampai Taylor Swift kuliah di Jogja? Heloooo.. nggak mungkin!! Move on dek, move on..

Kalo nggak pengen gagal move on, jauhin aja deh hal-hal di atas. Boleh dicoba kok!!
Masa lalu nggak usah dilupain, susah!! itu Cuma bikin kamu tambah sakit. Mending jadiin masa lalu sebagai pelajaran untuk menyongsong masa depan. Itu saya pikir lebih realistis.
So, semangat guys!!


Minggu, 15 Maret 2015

Ada apa dengan tv?

sumber: http://kabarislamia.com/2014/10/05/manipulasi-media-massa/

Bisa dibilang kita "haram" untuk memusuhi media, terutama dalam format tv. Hal ini karena tv dan masyarakat adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan layaknya dua orang yang sudah terikat janji.
Bisa dibilang perkeluarga memiliki setidaknya satu tv dan hitung saja berapa lama durasi yang dihabiskan nuntuk menonton tv? Jika demikian, berarti tv sudah hampir bisa dimasukkan ke dalam kebutuhan primer.
Akan tetapi, hal yang paling penting untuk kita ketahui dan perhatikan bahwa tidak semua informasi yang disajikan dalam media ini dapat memberikan manfaat secara kaffah. filterisasi yang tepat sangat diperlukan untuk memperoleh unsur inspiratif dan edukatifnya.
Coba kita flashback sedikit ke belakang. Belum lepas dari ingatan kita hebohnya masalah pemilu presiden yang hanya memiliki dua kandidat, sehingga terkesan negara ini dipecah menjadi dua kubu. Dengan adanya kotak-kotak semacam ini, tentu saja media seperti menghirup udara segar. mereka saling mengangkat dan menjatuhkan satu sama lain.
Kita ambil saja salah satu kandidat presiden, percaya atau tidak, dibelakangnya sudah berdiri 5 channel tv sekaligus. Memang mereka mengundang pakar yang seakan-akan bersifat objektif, akan tetapi sudah barang tentu mereka menerima sugesti dari pemilik stasiun terlebih dahulu yang memiliki kepentingan politik.
Dari sedikit cuplikan diatas, sudah bisa diambil kesimpulan bahwa adanya konglomerasi yang terjadi dibalik media.
 
http://kabarislamia.com/2014/10/05/manipulasi-media-massa/
Tidak hanya itu, media juga terkesan plin-plan. Beberapa jam mengatakan bahwa hal ini demikian, beberapa jam setelah itu kabar menjadi lain lagi. How come? jelas! ini karena media sering membesar-besarkan suatu kabar yang masih bersifat "kemungkinan", sehingga jika beberapa menit setelah kabar dihembuskan dan ada kemungknan lain lagi yang tercium, secara otomatis berita tersebut akan di update sesuai kemungkinan tersebut.
Beberapa hari yang lalu, saya mengamati tayangan -tayangan yang ada di tv selama seminggu. Hasilnya ada beberapa tayangan yang seharusnya tidak layak ditonton sesuai kualifikasi usia. Misalnya salah satu kartun "Spongebob". Dalam penilaian subjektif, kartun ini seharusnya dipruntukkan anak-anak usia 15 tahun ke atas. Karena anak dibawah usia tersebut masih belum paham dimana sebenarnya letak "kelucuan" dari kartun tersebut. Tidak hanya itu, anak-anak yang terkesan "manut wae" akan dengan mudah menerima karakter negatif yang ditayangkan dari kartu tersebut, misalnya kikir, bodoh, anti-sosial, dan sebagainya.
sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/09/27/260395/KPI-Bakal-Stop-Tayangan-Spongebob-dan-Tom-&-Jerry-
Akan tetapi, siapa yang mampu mengharamkan media tv, Sumber informasi tercanggih dan memuat informasi termutakhir ini?
Ya, meskipun banyak hal negatif yang bisa kita temui, tentu saja unsur yang bersifat positif juga banyak. Beberapa tayangan sangat layak unuk dikonsumsi, dan mampu memberikan unsur edukatif, inspiratif, dan informatif secara seimbang. Saya ambil contoh acara reality show “jejak petualang”. Menceritakan seorng petualang wanita yang berusaha meng-explore wilayah-wilayah di Indonesia. Tayangan ini seobjekif mungkin mengupas suatu hal yang bisa memberikan informasi dan inspirasi untuk orang lain, disamping memberi dampak meningkatnya sikap patriotisme untuk masyarakat Indonesia.
Panjang lebar pernyataan tadi mengingatkan kita untuk bijak-bijak dalam memilih tayangan. Apakah nantinya media tersebut hanya akan menjadi “tell lie vision” atau akan menjadi sumber edukasi dan informasi yang  bermanfaat. Semua tergantung konsumen media.

#IDKS


Rabu, 11 Maret 2015

Eloknya Pesona Perpustakaan


Apa yang terlintas di pikiran kamu kalo denger kata "perpustakaan"??
Pasti banyak yang bakalan jawab serem lah, ngebosenin lah, nggak keren lah, de el el.
Move on lah kawan, itu tuh jawaban gambaran perputakaan jaman doeloe, plis deh kita sekarang hidup di tahun berapa? 2015 meeen, 2015!!
Mari ubah persepsi itu setelah baca postingan ini. The first one, say "hello" for Singapore pliiiss, karena yang bakalan aku bahas sekarang tentang kunjunganku di perpustakaan nomor 1 di negara dengan landmark singa ini. Yuk intip sedikit, gimana sih uniknya perpustakaan di negara maju? Mari simak,,

  1. Strategis
Perpustakaan ini deket banget sama salah satu tujuan wisata di Singapore, yaitu Bugis Street. Bugis street salah satu pusat belanja termurah di Singapore dan sangat ramai dikunjungi tiap hari. Nah bagi kamu yang lagi belanja di sana, sempetin deh datang kesini, cuma 10 menit, langsung nyampek. Sklaian ngelurusin kaki kamu yang sedikit bengkok-bengkok abis jalan jauh.
2.      Megah
Payah banget lah kalo di Negara maju eh malah bangunan perpustakaannya kuno, tokek bakalan betah lama-lama ngekos disana. Ini salah satu keunggulan Perpustakaan di Negara ini. Gilaa, gede banget men, bersiap betis kamu bakalan dibuat gede untuk mengelilingi perpustakaan ini, siapin balsem atau minyak tawon juga ya, kali-kali aja manjur buat nyembuhin gempor.
Library building

Nggak Cuma megah, perpustakaan ini juga masuk ke dalam 40 perpustakaan termegah dunia, ya banyangin aja, bukunya ada lebih dari 200ribu dan tersedia juga gedung kesenian teater siap menampung 615 orang. Pura-pura bayangin aja lah ya,,,
3.      Taat aturan
Pustakawan disana sangat menjaga dan menjalankan kode etik pustakawan. Dengan logat Indonesia serta sedikit menghilangkan huruf “R” (yang akhirnya beneran jadi ilang), aku sapa nih pustakawan yang lagi nugas disana. “Hi Miss, I’m Hana From Indonesia (sok kenal), I wanna see all of this library. In Indonesia, I took Library science major, and Could I take a picture with you, please?” Nah, yang masih bingung sampai sekarang, buat apa aku ngomong kayak gitu? Ngapain juga mau minta foto bareng pustakwannya? Mungkin beliau mikir, ni orang ndeso banget si, kayak nggak pernah ketemu manusia aja.
Dijawablah sama beliau, “nice to meet you, that’s good major and the best one. But sorry, no camera here, you can see that (nunjuk beberapa kamera cctv)”. Yaah penonton kecewa deh, akhirnya aku Cuma melambaikan tangan di kamera, dan berusaha mengendap-ngendap ngambil beberapa penampakan di dalam perpustakaan ini. Yup, mereka sangat menjaga aturan di tempat mereka bekerja. Intinya sih gitu.
gambar curian ruang koleksi perpustakaan

4.      Corner anak
Ini dia ni salah satu yang bisa ditonjolkan dari perpustakaan ini. Unik banget bro, tempatnya unyu-unyu kayak cherrybelle gitu. Dicat dengan warna kuning kolaborasi hijau, ditambah lagi ada pohon yang ditaruh ditengah-tengah ruang, dijamin anak-anak bakalan betah disini. Tapi jangan coba-coba nitipin anak disini ya?
Koleksinya diklasifikasi sesederhana mungkin, dan sudah dilengkapi teknologi RFID, jadi bias meminjam dengan mandiri.
Balita di perpustakaan

Dan jangan kaget ngeliat bayi atau balita bertebaran di area ini. Srius!! Mereka bukan tuyul!! Kebiasaan di Negara maju, anak-anak sudah dikenalkan dengan perpustakaan sedini mungkin, jadi hati-hati jika masuk ke ruangan ini, jangan sampai kamu jadi bulan-bulanan ibu-ibu disana gara-gara kamu jatuh kesandung balita lewat. Yaelah, nggak elegant banget jatuhnya.
5.      Ramah Usia

Mulai dari balita, remaja gaol, ibu-ibu, bapak-bapak, sampek aki-aki nggan jarang kita jumpai disini. Mereka kliatan betah banget di dalam perpustakaan. Entah karena AC’nya, karena wifinya, atau karena apanya ya?? Mungkin sudah seperti rumah sendiri kali ya? Jadi bisa bikin kopi, teh, nasi goreng *halahngawurlalulupakan

remaja

ramah usia
Nah, itu dia sedikit keunikan yang berhasil saya rekam dan publikasikan. Jika menurut kamu nggak menarik, bisa langsung datang ke Perpustakaan Nasional di Singapore, Lihat dan rasakan sensasi perpustakaan di negara maju tersebut. Sepertinya memang lebih menarik jika diamati langsung.

Salam Pustakawan !! 
#IDKS



Rabu, 04 Maret 2015

We are Not Alone


Mekkah, Jepang, Turki, Australia, Jerman, Hongkong. Siapa yang nggak mau menginjakkan kaki di sana? Saya setuju kalo ada yang bilang punya mimpi keliling dunia. Kita cinta dengan Indonesia nggak mesti bilang "haram" keliling dunia, kan?
Aku pernah ngerasa sendiri dengan mimpiku. "Mungkin nggak ya? kayaknya nggak mungkin lah.."pergolakan batin itu yang kadang bikin obsesi jadi turun naik. Nah ternyata ada nih solusinya. Kalo kamu pengen obsesimu tetap konsisten dan berencana untuk diwujudkan, kamu bisa kok gabung dengan komunitas yang sejalan dengan kamu, nggak cuma di kehidupa nyata, bisa juga kita cari lewat online.
Persis yang aku lakuin beberapa bulan lalu. Aku mahasiswa Jogja dan sebelum aku pulang dari perantauan aku bermimpi setidaknya bisa menginjakkan kaki di negara orang. Iseng2 searching di facebook dengan kata kunci "backpacker" beberapa profil muncul, dan aku lebih memilih "backpacker International". Tanpa pikir panjang langsung bergabung.
Setiap hari aku didoktrin dengan pengalaman-pengalaman orang yang keliling dunia. Entah itu haji backpacker, backpacker ke Malaysia, Hongkong, Thailand dan masih banyak lagi yang nggak sedikit diantara mereka itu "Mahasiswa". 
Mikir juga sih, dia mahasiswa dan sudah mampu terbang ke luar negri, dan aku juga mahasiswa, tapi kapan bisa terbang kesana?? aaaaa envy banget kalo sudah liat foto-foto mereka. Nah ini yang bikin kita tambah semangat ngewujudin semuanya.
some tips from member
Nggak cuma nampang foto doang, komunitas ini juga ngasi trik-trik hunting tiket murah, cara solo backpacker, tips dapetin penginapan gratis di negeri orang, transportasi disana gimana, sampai itinerary yang mesti kamu siapin sebelum jadi bacpacker.
Komunitas ini aktif banget. Leadernya sering ngadain trip bareng, diskusi anggota, dan banyak lagi. tapi berhubung aku di Jogja, dan center dari komunitas ini di daerah sebelah, yasudah, next time kalo ada waktu luang baru bisa gabung di dunia nyata. 
Selain itu, kamu bakalan dapetin juga motivasi-motivasi berupa gambar ataupun tulisan dari member-member yang ada disana. Dengan begitu, dijamin deh kamu nggak bakalan ngerasa bermimpi sendirian lagi.
Bagi newbie dalam dunia backpacker, boleh dicoba gabung dengan komunitas ini. Carry your bag up, Let's around our beatiful world. don't you know that we are not alone.. Achieve your dream guys,,
Komunitas ini memberiku sedikit angin segar dan sedikit banyaknya, ilmu yang ada di dalamnya jadi patokan pas ngetrip kemarin. makasih sudah membuat aku bisa ngeshare pengalaman di komunitas ini, nggak cuma jadi pembaca doang. hehehe. senang bisa berbagi pengalaman dengan orang lain. responnya juga cepat. good job
sharing experience


#IDKS