Bagiku, backpacker punya arti yang dekat dengan “menggembel”.
Maksudnya, dengan budget minim bin maksain masih bisa menjelajah tempat
destinasi.
Aku, May, Desi, Rin, Arum.
Jakarta!! Yah, itulah destinasinya. Sepele memang untuk sebagian
orang. Tapi bagi kami yang belum sempat menjelajah ibukota negara ini, tentulah
itu bakalan jadi momen yang penting.
Nggak jelas kapan kita mulai ngomongin backpackeran ke sana. Aku masih
ingat jelas, Kejadiannya beberapa menit sebelum perkuliahan berikutnya dimulai.
Yang awalnya cuma omong kosong, tiba-tiba saja kita sepakat buat fix pergi 3
minggu lagi. Bahkan setan saja, mungkin enggan mikirin temannya yang mana yang
sudah nyamperin kita, kenapa bisa kita mengambil keputusan secepat itu.
Rin, temanku yang satu ini patut diacungi jempol dalam hal
menghasut orang lain. Faiz, Kunto, Bastian, fajar dan Yeni tiba-tiba saja
mengangguk untuk join. Untuk kedua kalinya, setan mungkin masih enggan
mikir, atau bisa jadi malah garuk-garuk kepala.
Kami membentuk lingkaran. Uang seratus lima ribu rupiah kami taruh
layaknya manusia yang tengah main kartu remi. Modal sudah terkumpul dan siap
ditukarkan menjadi karcis. Aku dan May seakan kerasukan “ini gila, ini rencana
gila” disambut dengan gelak tawa kita yang mungkin bikin bergidik orang
sekitar.
--3 Minggu—
Ini dia hari yang ditunggu!! Welcome to Jakarta
Yup, ransel, bungkusan makanan, kamera, dan buku siap jadi
pelengkap backapckeran. Sengaja kita bawa makanan dari Jogja dengan dalih nggak
ngeluarin uang buat makan di Jakarta. Sedikit cerdas untuk orang yang hemat
(nggak punya uang tepatnya).
Malam di kereta-pagi di Jakarta-malamnya lagi sudah otewe pulang,
piye? Cerdas bukan?
Tau Begal kan? Yah, itulah yang ada di pikiranku. Setelah shalat Isya
di stasiun kami berencana menunggu subuh depan stasiun sembari mengampar koran
untuk duduk, lalu makan bersama.
Ringkas cerita, sebelum subuh kami mutusin buat berangkat ke Masjid
Istiqlal berjalan kaki bermodalkan GPS. Sebenarnya, kami berencana naik busway,
tapi selternya ternyata masih gelap.
Gelap!!
Lorong-lorong yang kami lewati sangat horor. Orang gila yang ada di
sisi kiri dan kanan jalan, cukup membuat kami memutuskan untuk bungkam. Beberapa
meter setelah berjalan, tiba-tiba muncul suara keras.
BUG!!
Dalam hati langasung berpikr, jangan-jangan begal. Masih dalam
posisi bungkam, kita saling pandang satu sama lain. Dengan memberanikan diri
kita langsung melihat ke belakang, dan ternyata..... Faiz jatuh!!
Hahaha.. bungkam kami langsung pecah. Maaf ya Faiz, tertawa kami
Cuma spontanitas.
Tawa itu terus kami bawa sampai ke masjid Istiqlal.
Tentu saja jalan kaki. Dengan jinjingan tas ala backpacker, kami
tiba di monas.
“fotoin aku dong” “abis itu fotoin aku ya?” yaaahh... nada-nada
narsis memang kental di lokasi destinasi. Pucuk emas Monas bersedia menjadi
background foto, dan kami berlomba-lomba mengoleksi foto sebanyak-banyaknya.
Setelah itu, kami lelah.
Tapi ada satu hal yang bikin kami semangat. Bus tingkat, dan itu
GRATIS. Bukannya menikmati perjalanan, kami malah tertidur pulas di dalam,
entah efek AC, atau memang karena kelelahan. Tiba-tiba “ayo cepat, kita harus
keluar dari sini” yaelah, Rin mengigau, mungkin terlalu lelap.
--Museum Nasional—
Rumah Adat, pakaian adat, senjata tradisional, archa tua, dan
teknologi sederhana manusia purba. Memandang itu semua sudah sedikit membuat
kami terhibur.
“Eh, rumahmu yang mana? Yang itu bukan?” mirip seperti anak-anak
memang. Kami saling menunjuk miniatur rumah dari daerah kami masing-masing. Tak
jarang juga pakaian ataupun perangkat lain, kami jadikan sebagai media bullying.
Hehe sorry guys.
Ini dia destinasi utama. Gedung dengan beberapa lantai ini memaksa
kami menggunakan lift sebagai media pengangkut. Lucunya, semua lebih mirip
orang yang sudah meneguk alkohol. Teler. Alhasil, fokus kami buyar untuk
mengamati beberapa sudut yang sebenarnya menarik perhatian. Katalog kartu,
naskah kuno, OPAC, dan serial. Tiap sisinya mempunyai harum perpustakaan yang
khas.
Tua ya? Iya, kalau muda,
mungkin namanya akan berubah menjadi “kota muda”. Kami menggunakan KRL untuk
sampai kesini. Dari perpusnas jalan kaki sekitar setengah jam, membuat kaki
sedikit gempor dan fokus semakin buyar. “Desi, nanti kalo sudah di stasiun,
kita naik KRS ya?” Mungkin Faiz lelah.
“KRS? KRL kelesss!!”
Kota ini benar-benar tua. Bangunannya, pemikirannya, dan segala
yang ada di sini. Sisi kiri dan kanan jalan dipenuhi bangunan tua, di tengahnya
penuh sesak dengan pedagang dan pengunjung.
“ini mirip sunmor di UGM” bisikku.
Anak-anak, remaja, orang tua, semuanya bersaing menarik perhatian
pengunjung. Tujuannya tak lain untuk mencari nafkah.
Itu dia sedikit aktivitas backpacking ku di Jakarta. Sehari saja aku sudah
kelelahan, sempat aku bayangkan lelahnya bapak tua dekat stasiun Manggarai tadi yang
menjinjing karung, dia terlihat lusuh dan tengah memegangi perutnya. Aku nggak
tau apa yang dia rasakan. Juga paman penjual minuman di Monas yang beberapa
kali aku panggil namun tidak juga menegapkan badan dan menanyakan apa yang akan
aku beli. Dia lebih memilih tidur dan tidak mengacuhkanku. Mungkin paman itu
sedang rehat, atau dia sakit? Aku melihat nafasnya tidak beraturan dan
menggigil. Atau jangan-jangan dia pingsan?
Entahlah, satu pelajaran penting yang aku dapatkan dari perjalanan
ini. Lihatlah ke bawah kawan, maka kita akan lebih banyak bersyukur. Ternyata
masih banyak orang yang berusaha mengikat perutnya agar tak terasa lapar,
membuka paksa matanya agar tetap mampu menafkahi keluarga, menopang badannya
agar tetap mampu berjalan meskipun terhuyung. Dan satu pengetahuan penting juga
yang aku dapatkan. Hidup di Jakarta itu keras, kesenjangan sosial sangat mudah
dilihat.

















