Kamis, 29 Oktober 2015

Backpacking ke Singapura

“Hoaheeeemmmm”.. Kuliah siang ini terasa sangat berat. Setan-setan halus menggelayut manja di mata. Terlebih duduk di baris terakhir, seakan melengkapi alasan untuk merehatkan mata sejenak. Namun, baru sebentar saja Rosi mengatupkan mata, tiba-tiba seseorang memanggilnya dari arah depan. Bukan kepalang kagetnya, karena yang memanggil adalah orang yang sudah lama ia kagumi. 
Namanya Ihsan, pemuda tampan dan memiliki kecerdasan maksimal. Siang ini, dia dan kelompoknya tengah presentasi mata kuliah layanan perpustakaan. Yaaah, mata kuliah yang sedikit membosankan dibanding mata kuliah yang lain. Ditambah presentasi, rasanya seperti rebahan di kasur empuk, lalu didongengkan cerita sleeping beauty sebagai pengantar tidurnya.
“Kami persilakan kepada mbak Rosi untuk menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Perpustakaan di Luar negeri. Ini terkait perbandingan layanan yang diterima pemustaka di negara kita dengan negara tetangga”
“Degg”
Tiba-tiba saja jantungnya serasa berhenti berdetak. Kaget bukan main. Mata kantuknnya kembali melebar membentuk bulatan sempurna, khas gadis Bali. 
“sss...sssaaa..saya?” tanyanya kembali, meyakinkan pernyataan tadi memang ditujukan untuknya.
“Iya.. silakan mbak” jawab Ihsan mantap.
Rosi memang pernah menjadi backpacker beberapa bulan lalu. Tak banyak negara yang dikunjungi, hanya sebatas Singapura. Dia langsung berusaha mengorek memoar perjalanannya, dan menceritakannya berurutan. Teman-teman yang lain mulai memperhatikan dengan saksama.
***
Awan mendung dan hujan deras asyik menyambut pagi ini. Matahari terlihat enggan menampakkan raut cerianya. Hembusan angin kencang mengawani perbualan kecil dua mahasiswa rantauan, yang sedang bersiap-siap menjinjing ransel menjadi seorang backpacker. 
Rosi baru saja melakukan check-in online, lalu mengamati boarding pass di tangannya. Tanggal 19 Januari 2015 pukul 14.00 WIB, tertulis rapi di atas tiket pesawat berrute Yogyakarta-Johor Bahru. 
“tiga hari lagi.” Desisnya. 
Memang, bulan ini termasuk musim penghujan. Sebenarnya tak jadi masalah untuk Rosi, namun ia belum siap menerima sensasi guncangan saat turbulensi di atas pesawat.
Belum lagi, trauma psikis yang ia terima saat ini. Pesawat dengan maskapai sama beberapa bulan lalu jatuh di perairan Selat Karimata. Jalur persis yang juga akan ia lewati.
“Cha, gimana dong, aku enggak jadi berangkat aja lah” ujar Rosi ketakutan setengah mati.
“Alah kau ni, macam anak TK. Udah optimis aja, masak pesawat terus-terusan jatuh” jawab Icha ketus, sembari terus merapikan baju dan memasukkannya ke dalam ransel besar. Ia tengah bersiap-siap.
“Tapi nanti kalau turbulensi macam mana?” Rosi masih ngeyel, bak anak kecil yang terus mencari jawaban yang bisa menenangkannya.
“Udah pergi sana, rapikan baju kau, tiga hari lagi kita berangkat” Icha mendorong Rosi perlahan keluar dari kamarnya.
“Oh ya, jangan lupa paspor kau dikopi, sekalian sama KTP juga. Biar nanti kalau ada apa-apa, kita gampang diidentifikasi” Tambahnya.
Rosi menelan ludah. Tak mampu ia menyimpan wajah pucat pasinya. “Pesan macam apa itu,” gerutunya dalam hati.
Icha tertawa lebar melihat tingkah aneh temannya yang penakut itu.
***
Hari ini tanggal 19 Januari 2015. Jadwal terbang Rosi dan Icha ke Johor Bahru, Malaysia. Pagi ini cuaca mendung, tapi tak hujan. Rosi masih terus menatap langit, berharap hujan tidak akan turun. Setidaknya sampai pesawatnya lepas landas.
Jam menunjukkan pukul 13.45 WIB. Cuaca masih sama. Rosi dan Icha memasuki kabin dan mencari-cari tempat duduk mereka. Hawa dingin mulai menyeringai dan membuat menggigil. Beberapa menit kemudian, pramugari mengumumkan agar penumpang mengencangkan sabuk pengaman, pertanda pesawat akan lepas landas. Semua penumpang sibuk masing-masing, lalu serentak menghadap ke depan, tegang. Terlihat Pramugari dan pramugara mendemonstrasikan alat-alat keselamatan dalam pesawat beberapa saat kemudian.
Pesawat mulai mengudara sempurna, candi Prambanan mulai mengecil. Semenit.. Dua menit.. tiga menit.. empat menit.. lima menit.. cuaca sisi kiri dan kanan jendela pesawat mulai menghitam.
“Perhatian, sebentar lagi kita akan melewati cuaca buruk. Penumpang diharapkan tetap tenang. Silakan kembali ke tempat duduk dan kenakan kembali sabuk pengaman Anda. Terima kasih.”
Benar saja, pesawat mereka mengalamai turbulensi. Turuuuunnn.... Naiiiikkkk... Turuuunn... Semua penumpang mulai panik dan mulai menjerit. Rosi tak hentinya berkebit melantunkan doa-doa yang dihafalnya, tak terkecuali do’a makan. Dia melirik ke kursi sebelah memastikan Icha baik-baik saja.
“Alamaaaak, kondisi kayak gini, kau sempat pulak tidur, cha!!”
Rosi masih tak habis pikir dengan si Icha, yang lebih memilih tidur ketimbang mengikuti orang menjerit-jerit. Rosi memegang erat kursi di depannya, berharap peristiwa ini cepat berakhir sembari terus berdoa.
Lima menit turbulensi, akhirnya kondisi kembali tenang. Rosi mengelus dada dan mengucap syukur. Pendaratan mulus setelah pesawat mengudara selama dua jam. Tulisan Besar “Senai International Airport” menyambut kedatangan mereka, lalu menghambur mengikuti penumpang lain. 
Waktu menunjukkan Pukul 16.00 waktu setempat. Bus Causewaylink menjadi pilihan mereka untuk bertolak ke Singapura, yang memakan waktu sekitar satu jam. 
***
Jam menunjukkan Pukul 08.00 waktu Singapura. Hostel “Backpacker Inn” masih saja tenang, tak berubah sejak malam tadi.
“Kau sudah siap cha, ayo berangkat” ujar Rosi sembari merapikan jilbab hijau yang dikenakannya. Menjinjing ransel kecil, lalu menatap teman backpackernya, Icha.
“Siap, boss.. Let’s Go” Balas Icha mengacungkan jempol. Dia tampak rapi dengan jeans dongker, dikolaborasikan jilbab pink motif bunga.
Lokasi-lokasi yang akan dikunjungi mereka hari ini sudah tersusun rapi. Lengkap dengan rute MRT (Mass Rapid Transit), dan peta di sisi kanan ransel. Mereka tak ubahnya Dora the Explorer. 
“Excuse me, please give me two Singapore Tourist Pass for two days”
“Okey, S$32. Thank you”
Mereka membeli STP (Singapore Tourist Pass) untuk dua hari. Menghemat biaya transportasi, karena dengan kartu tersebut sudah tidak membayar biaya transportasi lagi selama dua hari. Destinasi pertama sudah mereka tentukan. “Bugis Street”. Sebelum menaiki MRT, mereka berdua mematung di depan papan jalur MRT. 
Sebenarnya yang mereka lakukan adalah berusaha memahami bagaimana cara mencari dan menentukan rute. Rosi mulai menarik kacamata, lantas mengucek matanya berulang-ulang. Icha tak kalah ekspresif, dia mulai memicingkan mata, berharap dengan tingkah tersebut mereka berdua mendapat ilham langsung paham dengan rute-rute yang sangat rumit itu. Sepuluh menit.. dua puluh menit.. dan “Alamaaaak, macam ni pun kau tak paham?” Icha menepuk keras pundak Rosi.
“Kau biasa aja Cha, mau copot jantungku kau buat” jawabnya setengah menjerit.
“Yok lah, jangan buang-buang waktu. Jauh-jauh kau datang ke Singapore cuma buat numpang bengong? Helloooo... noh, Di depan Candi Prambanan aja, mana tau kau juga langsung jadi candi” Icha memilih meninggalkan Rosi yang masih memandangi papan rute. Bingung. Terpaku.
Tak lama kemudian, pintu penumpang terbuka. Semua orang berkerumun memasuki MRT dan melirik kiri kanan, mencari tempat duduk kosong. Rosi memilih berdiri dan memeluk tiang yang ada di tengah. “Naseb..naseb.. nggak ada abang-abang, tiang pun jadi” gumam Rosi dalam hati, lantas tertawa keras. Semua orang menatapnya aneh, ada yang bergidik juga. Rosi langsung salah tingkah, dan berpura-pura membetulkan tali sepatunya. Icha menatapnya tajam, mengeluarkan jari telunjuk, menggeseknya dari sisi leher kiri ke sisi kanan. “kheekkk” katanya pelan.
***
Lima menit perjalanan terasa sangat singkat, dan pintu terbuka otomastis. Rasanya baru saja Rosi memeluk tiang, kini sudah ada di destinasi pertama. Bugis Street. Rosi membentangkan peta yang tadi ada di sisi kanan ransel, dan langsung berjalan mengikuti arah. Icha yang tidak tahu menahu soal arah hanya bisa mengekor di belakang Rosi. Asyik memfoto sana-sini, Icha meringsek menabrak Rosi yang berhenti mendadak. “Kau betul sikit lah denganku. Apa pula kau berhenti tiba-tiba. Kalau kepalaku bocor, macam mana?”
“Alah kau cuma bocor pun sibuk, dekat-dekat sini banyak lah tukang tambal ban kurasa. Eh Cha, kau liat ini, kayaknya ini lah lokasi yang ada di peta ini.” Icha mengernyitkan dahi, lalu berusaha mencocokkan berkali-kali posisi peta dengan lokasi yang ada di depannya. Senyumnya mengembang. Mereka berdua saling menatap, lalu melompat berbarengan. “Uhuy, berhasil..berhasil..widirit” Icha mulai menyanyikan lagu legendaris dari Dora the Explorer. Orang-orang di sekitar menatap aneh dan menggeleng-gelengkan kepala. Namun, mereka tak peduli dan langsung menghambur ke lokasi tujuan. 
Bugis street terkenal sebagai pusat belanja oleh-oleh yang terjangkau. Ratusan bahkan ribuan wisatawan setiap hari mendatangi lokasi ini. Masing-masing mereka terlihat sibuk memilah, memilih, dan menawar barang yang hendak dibeli. Tak terkecuali Rosi dan Icha. Berbekal bahasa Inggris pas-pasan, mereka menawar sadis tanpa ampun kepada penjual. Alhasil, mereka kena damprat sana-sini. Dalam waktu dua jam, hanya dua miniatur kecil seharga $S5 yang bisa mereka kantongi.
***
“Ros, kok kakiku perih ya? Kayaknya lecet deh.”Icha menatap dengan wajah iba. Dengan alat seadanya, Rosi membantu Icha menyumpal luka lecetnya dengan tisu. Tak berapa lama, Icha kembali meringis. Celakanya, tisu tadi ternyata diterbangkan angin. Dengan kekuatan penuh, mereka berdua berlari mengejar tisu tersebut sambil berteriak “Alamaak.. denda 1000 dolar. Tolong anakmu ini maaaak”. 
Tingkah konyol tersebut mewarnai perjalanan mereka menuju destinasi selanjutnya, Perpustakaan Nasional Singapura. Lokasinya tak jauh dari Bugis Street, sekitar sepuluh menit bagi pejalan kaki. Rosi yang memang mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan tak ingin membuang kesempatan langka ini, meskipun masih sedikit ngos-ngosan. Perpustakaan tersebut terdiri dari tiga belas lantai. Ruang perpusatakaan utama berada di Lantai satu. Semua pengunjung bisa membaca disini, namun hanya para anggota saja yang bisa meminjam buku.
Di sudut kanan perpustakaan terdapat gua kecil yang berhiaskan bunga-bunga rindang. Tapi itu bukan bunga sungguhan, Hanya replika. Di dalam gua tersebut, terdapat replika pohon kuning besar, berdaun lebat yang dibuat dari botol bekas. Dibawahnya ramai berlarian dan duduk berjajar rapi beberapa balita lucu, bermata sipit dan memiliki pipi tembem, juga berkulit putih. Tak lain, gua ini adalah corner khusus untuk anak-anak. Rosi sangat menikmati ruangan ini. “jepreettt”.. “Jepreeett”.. hasrat ingin mengabadikan seluruh sudut ruangan ini sudah tak terbendung lagi oleh Rosi. Bahkan, pustakawan yang ada disana pun turut diajak berfoto. 
Di sisi luar perpustakaan, terdapat ruangan khusus buku berbahasa Arab, ruangan baca untuk lansia, serta beberapa ruangan khusus lain. Puas dua jam berkeliling, Icha mengajak Rosi untuk melanjutkan perjalanan.
***
Destinasi terakhir yang mereka kunjungi hari ini adalah Merlion Park. Yah, semua orang tahu di lokasi inilah letak Merlion, si Ikan berkepala singa yang menjadi Landmark Singapura. Hanya menempuh waktu sekitar 15 menit dengan MRT, para pelancong sudah bisa menjangkau tempat ini. Sebelum ke pusat patung, pengunjung akan disuguhi pemandangan sungai yang mempesona dari atas jembatan. Dari sini, pengunjung bisa melihat Marina Bay, gedung pencakar langit yang diatasnya berbentuk kapal layar. Rosi dan Icha tak lupa mengabadikannya. “woohooooo... Cha, kau tengok lah tu. Baru kemarin ku tengok dia di mbah google, eh sekarang udah ada di depan mata” Rosi kegirangan sambil menunjuk-nunjuk merlion dari kejuauhan.
“Kau ni, katrok” Jawab Icha ketus. Tapi Rosi tak peduli. Dia tetap kegirangan, lantas lari-lari kecil menuju patung Merlion. Icha masih sibuk dengan DSLR yang dibawanya. Sesampainya di Merlion Park, Icha dan Rosi berebut untuk berfoto. “Kalau kau mau pulang selamat, fotokan aku dulu” Icha memaksa Rosi untuk mengambil gambarnya terlebih dahulu. Apa daya, ancaman Icha sedikit membuat Rosi bergidik, dan dia pun mengalah. Jeprattt...jepreettt...jeprat..jepret... Beratus-ratus gambar sudah mereka ambil.
Di pelataran Merlion Park, mereka berdua memutuskan untuk rehat. Mereka kompak melepaskan sepatu dan memilih nyeker, membiarkan kakinya rileks sejenak.
“Eh Cha, kok kau bisa tidur sih pas turbulensi kemarin? Semua orang panik, kecuali kau”
“Emang kapan pesawat kita kena turbulensi?”
“Aih makjang, kau tidur macam apa aja. Goyang sebegitu keras kau tak rasa?”
Mereka berdua menghabiskan waktu sore di samping patung Merlion sambil berbual kecil. Relaks. Mereka menunggui Singapura di malam hari untuk menyaksikan pertunjukan laser yang ditawarkan dari Marina Bay.
***
“Yah, seperti itu lah perbedaan yang saya temukan antara perpustakaan disini dengan perpustakaan di Singapura.”
Teman-temannya yang lain memberikan applause dan apresiasi kepada Rosi yang penakut, menjadi seorang backpacker. Sebagian besar sulit mempercayainya. 
Rosi tersenyum. Matanya sudah tak mengantuk lagi. Ihsan memandanginya, dan Rosi membalas pandangannya. “Baiklah, kita akhiri perkuliahan siang ini, kita lanjutkan Minggu depan” Suara dosen membuat pandangan mereka beralih.
“Kau hebat, Ros!! Padahal kau kan penakut!!” Ihsan mengiringi langkah Rosi keluar dari kelas dan memulai percakapan. Wajahnya terlihat sedang menggoda.
“Heh, enak saja kau bilang. Setidaknya aku selangakah lebih maju dari kau!!” Kali ini Rosi menjawab dengan mendelikkan mata.
“Ampun..ampun.. Jangan marah lah nyonya!! Kau terlihat makin seram kalau cemberut gitu” satu..dua..tiga.. Ihsan lari menghindari tangan Rosi yang penuh buku hendak menghantamnya. Mereka berlarian mengejar satu sama lain sampai tak terlihat lagi oleh mahasiswa-mahasiswa lain.

Selasa, 13 Oktober 2015

Mantan jadi Kenangan

Taken by: Baiq Ririn Listia

Sejak kecil, kebiasaan bermain denga. teman sebaya di kampung sudah menjadi rutinitas saya setiap harinya. Sebagai anak-anak, masalah gender tidaklah menjadi penghalang untuk bersenang-senang dengan permainan tradisional. Memiliki abang yang jarak usia terpaut hanya satu tahun, membuat saya terhanyut asyiknya bermain dengan teman-temannya. Laki-laki dan perempuan, sama saja!! Toh masih kecil, belum sampai rasanya memikirkan untuk tidak bermain dengan lawan jenis. Apalagi masa-masa dulu tak seperti sekarang, yang pubertasnya sangat cepat. Dulu sangatlah sportif,  anak laki-laki dan perempuan bermain bersama, ya sebatas bermain saja. Tak sampai memikirkan apa yang lewat dari hal tersebut, semisal (maaf) pacaran.

Dengan begitu, sedikit sikap tomboy saya muncul dan rasa tak ingin kalah kian hari terus bertambah. Belum lagi saya memang anak terakhir, yang biasa memiliki sikap “kuasa” menjadikan diri merasa bagaikan singa tak terkalahkan. (begitu bahasa lebaynya).

Begitu lulus dari pondok, saya melanjutkan sekolah di Banyuwangi - Jawa Timur. Disini, saya mengikuti ekstrakulikuler “INKAI”, salah satu perguruan karate-do Indonesia. Tertarik mengikuti beladiri, melihat ayah yang menjadi pelatih di perguruan silat “Sinar Putih” di tempat kami, dan beberapa kali mengikuti ujian di pantai Parangkusumo -  Yogyakarta.

“Kayaknya sih keren ikut beladiri, bisa tambah macho, kan” gumam mulanya. Latihan berjalan lancar setiap Senin, Kamis, Minggu. Disini, saya hanya mampu mengumpulkan dan menyelesaikan sabuk kuning, Kyu-8, sampai saya memutuskan untuk pindah sekolah ke daerah asal. Di sekolah baru, ekstrakulikuler karate menjadi sorotan pertama, dan tanpa berpikir panjang langsung mendaftarkan diri. Sayangnya, perguruannya berbeda aliran dengan sekolahku dulu, disini menerapkan aliran goju-ryu. Memang agak berbeda, karena dari segi jurus dan teknik sangat mudah dijumpai perbedaannya. Saya benar-benar jatuh cinta dengan perguruan ini karena sangat mudah dilakukan. Lewat ketekunan, saya pernah mengikuti beberapa kejuaraan, diantaranya mewakili kontingen Jembrana menuju kejuaraan karate se-Bali dan Banyuwangi, juga PORSENIJAR tingkat kecamatan dengan menampilkan “Kata” (Seni Karate). Sabuk hijau dengan kyu-5 pun berhasil saya kantongi.

Sayang, saat kelas 2 semester akhir, kaki saya sempat operasi karena terlalu sering tergesek lantai dan memang termasuk kaki yang sensitif (kata dokter). Semenjak kejadian tersebut, sudah tidak aktif lagi karena alasan kesehatan serta fokus Ujian Nsional, meskipun jiwa saya masih ada disana.
Dua tahun berlalu. Di kampus, Pada penghujung tahun organisasi di jurusan, kami menampilkan persembahan-persembahan yang mungkin bisa ditampilkan. Saya diminta untuk menampilkan seni beladiri yang pernah saya tekuni. Pada awalnya menolak, karena memang pakaian saya sudah tidak setomboy dulu lagi, dan Gamis-gamis panjang selalu mewarnai tiap harinya. Akhirnya setelah berpikir panjang, saya menyanggupi, namun dengan menggunakan kaos kaki dan deker panjang didalamnya aga aurat tetap terjaga meskipun pada akhirnya harus menggunakan celana dogi (baju karate).  Tapi saya pikir pakaian ini tidak terlalu ketat. It’s oke lah..

Latihan seminggu cukup membuat fisik tidak kaget saat tampil di depan umum. Tepuk tangan penonton cukup memberikan rasa puas setelah lama tidak pernah berlatih dan tampil lagi. Namun saya berjanji ini adalah pertunjukan yang terakhir kalinya meskipun sempat tampil sekali lagi setelah acara ini. Saya benar-benar merasa berdosa, hehe

Malam ini, depan poliklinik UIN Sunan Kalijaga Yogyakrta menampilkan aksi yang dimainkan oleh perguruan Silat “Cepedi”. Sangat mengagumkan. Tak hanya laki-laki, perempuan juga ikut unjuk kebolehan, baik memecahkan bohlam lampu, seni beladiri, sampai memecahkan batako. Sempat iri melihat ke-macho-an perempuan-perempuan tadi. Ingin rasanya mengikuti lagi beladiri yang orientasi besarnya untuk melindungi diri apabila suatu saat dibutuhkan. Tapi sayang, pilihan jalan hidup menolak itu. Dunia beladiri menghilangkan sekat antara laki-laki dan perempuan, dan paradigma itu memang sedang saya jauhkan. Akhrirnya dengan sangat menyesal saya mengurungkan niat dan tetap menjadikan beladiri sebagai mantan serta akan tetap menjadi kenangan. saya hanya berharap, suatu saat mendapatkan imam yang pernah mengikuti beladiri sehingga dapat melindungi saya jika dalam keadaan darurat. Di samping hal tersebut, siapa tahu ilmu beladirinya bisa saya pelajari setelah menjadi sepasang kekasih nanti. Aminn..

Relaksasi di Magelang

Kriiiiing... Kriiiiiiiiing....
Alarm berbunyi semakin keras. “Oh iya.. mesti siap-siap cepat ni, jangan sampai telat”
Aku bergegas mengemas kamar dan menyegerakan untuk membersihkan diri. Beberapa hari lalu, sudah kurencanakan weekend ke Magelang dengan sodaraku. Hari ini jadi hari H nya. Jam sudah menunjukkan pukul 06.05 WIB.

Hana : Rin, udah siap?
Ririn  : Otewe nda..

Sengaja kuajak Ririn untuk meramaikan perjalanan kami, biasa.. temanku satu ini memang agak cerewet, biar nggak mellow adem ayem gitu lah. Setelah berjumpa dengan Ririn, kami langsung bergegas menuju ke rumah saudaraku di Maguwoharjo, yang memakan waktu sekitar 30 menit.
Sampai disana, saudaraku bergegas cepat dan langsung berangkat setelahnya. Menempuh waktu sekitar satu jam, dan melewati medan yang cukup sulit, membuatku sedikit kewalahan mengendalikan motor yang kusetir. Lelah sudah pasti, namun terbayar dengan pemandangan di sisi kanan jalan dari Taman Nasional Gunung Merapi. Dalam hati sempat bergumam, “oh, jadi ini tempat aliran lahar pas gunung Merapi meletus beberapa tahun lalu”. Udara sejuk mulai menyeringai. Kemana saja kami di Magelang? Ikuti terus..

1. Ketep Pass
Source: Dok. Pribadi

Ketep Pas merupakan nama jalan yang sepanjang mata memandang terhampar beberapa kebun stroberi yang menjajakan jasa petik sendiri. Namun sebelum memasuki lokasi tersebut, beloklah ke kanan di gerbang yang diatasnya bertuliskan besar-besar “Ketep Pass” untuk memanjakan mata. Dengan membayar parkir IDR 7,5K, kita sudah bisa memasuki area ini. Harga ini tak imbang dengan pemandangan yang luar biasa. Terdapat satu spot yang biasa digunakan pengunjung untuk mengambil gambar karena memang lokasinya yang sangat strategis. “11:12 lah dengan view yang kita dapatkan saat take off dengan pesawat, hanya saja sensasinya lebih alami ini” komentarku bak pakar peneliti tempat wisata. 
nature view, source: Dok. Pribadi

Disamping berfoto, ada juga volcano theatre, juga art corner yang berisi lukisan-lukisan yang sangat menarik. Tidak akan menyesal datang kesini. Belum lagi didepannya ada penjual jagung bakar, yang bisa dibeli untuk mengganjal rasa lapar dan memberikan sedikit sensasi hangat.

2. Kebun stroberi
Source: Dok. pribadi

Di musim kemarau seperti sekarang, membuat stroberi tumbuh lebih besar dan segar. Tak ada salahnya mengunjungi kebun stroberi dan memetik sendiri buah-buah yang tersedia di dalam kebun. Hanya dengan membayar IDR2,5K, kita sudah bisa merasakan sensasi memetik stroberi secara mandiri dan disediakan juga keranjang dan gunting untuk memetik. Akan tetapi, buah stroberi yang cenderung besar akan dipanen terlebih dahulu pada pagi hari untuk dijual kepada pengunjung, jadi ya enggak usah heran kalau buah stroberi yang ada di dalam kebun tergolong kecil-kecil. 

Tak hanya stroberi, kebun ini juga menanam labu orange kecil, yang juga baru pertama kali saya jumpai. Biasanya, labu berbentuk ruas-ruas dan memiliki ukuran yang sangat besar, akan tetapi labu ini nyaris bulat dan berwarna orange terang. 

Setelah memetik banyak stroberi, kita bisa menimbang hasil panen kita ke penjual, dan bisa pula ditambah beberapa ons lagi untuk menyempurnakan timbangan. Rata-rata, perkilonya seharga IDR 50K, dan ukurannya besar-besar. Ada juga yang bertempat mika yang dijual dengan harga IDR 10K, dan aku tertarik membelinya 1 kotak.

Stroberi kiloan, source: Dok. Pribadi

Jangan ditanya besar stroberinya... ini dia penampakannya...
Buah di depan kios, source: Dok. Pribadi


3. Kopeng
Saya tidak tahu betul ini nama jalan atau apa. Yang jelas tempat ini sangat menarik. Jaraknya lumayan jauh dari Ketep pass dan harus melalui trek yang tak  mudah. Jangan lupa untuk berfoto di Hutan pinus di sisi kiri jalan untuk mendapatkan background yang tak biasa. Namun jika tidak memungkinkan, bisa juga mencari spot lain yang juga tak kalah menarik. Misalnya, hadapkanlah wajah kita kearah utara, lihat betapa dekatnya kita dengan pegunungan. Dari sini, Merbabu terlihat sangat jelas. 

Lokasi pertama yang saya tuju adalah pasar. Disini, harga sayur sangat jauh lebih murah dibandingkan dengan harga-harga di kota. Kemungkinan besar karena disinilah letak ladang mereka. Sodaraku tertarik untuk membeli  kentang kecil beberapa kilo, dan jangan tanya murah harganya.

Sekembali melanjutkan perjalanan, hamparan pedagang buah dan bunga berjajar rapi. Warna kuning dari labu kecil yang baru saya jumpai meberikan efek warna menyegarkan pada kios tersebut. Bibit-bibit bunga juga sangat mudah dijumpai, dan tentunya dengan harga yang sangat miring, bahkan hampir jatuh, hehe. Percaya enggak percaya, harganya ada yang IDR 1K loh.. Seru banget kan?
Buah berjajar rapi, source: Dok. Pribadi

Bibit tanaman, source: Dok. Pribadi


Lokasi yang menjadi tujuan kami memang sedikit, namun selama perjalanan kami merasakan sensasi yang luar biasa karena disuguhkan pengalaman dan pemandangan yang sangat anti-mainstream.

Hana: Rin.. udah pernah ke JCM.. kalo belum, ayo kesana...
Ririn : Ayo nda...

Sepulang dari Magelang, kami langsung menuju Jogja City Mall, sekadar melihat-lihat saja dan menghilangkan rasa penasaran Ririn.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya sampai juga di kos. Kembali dengan rutinitas padat dengan view ala metropolitan. Sejak itu saya berpikir, kalau penat, tak ada salahnya untuk mencoba mengeksplor Magelang bersama teman-teman untuk membuat pikiran menjadi rileks.
Salam..

Senin, 05 Oktober 2015

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/124/jtptunimus-gdl-nanangqosi-6162-3-babiii.pdf
http://eprints.undip.ac.id/40789/3/BAB_III_METODE.pdf