Selasa, 13 Oktober 2015

Mantan jadi Kenangan

Taken by: Baiq Ririn Listia

Sejak kecil, kebiasaan bermain denga. teman sebaya di kampung sudah menjadi rutinitas saya setiap harinya. Sebagai anak-anak, masalah gender tidaklah menjadi penghalang untuk bersenang-senang dengan permainan tradisional. Memiliki abang yang jarak usia terpaut hanya satu tahun, membuat saya terhanyut asyiknya bermain dengan teman-temannya. Laki-laki dan perempuan, sama saja!! Toh masih kecil, belum sampai rasanya memikirkan untuk tidak bermain dengan lawan jenis. Apalagi masa-masa dulu tak seperti sekarang, yang pubertasnya sangat cepat. Dulu sangatlah sportif,  anak laki-laki dan perempuan bermain bersama, ya sebatas bermain saja. Tak sampai memikirkan apa yang lewat dari hal tersebut, semisal (maaf) pacaran.

Dengan begitu, sedikit sikap tomboy saya muncul dan rasa tak ingin kalah kian hari terus bertambah. Belum lagi saya memang anak terakhir, yang biasa memiliki sikap “kuasa” menjadikan diri merasa bagaikan singa tak terkalahkan. (begitu bahasa lebaynya).

Begitu lulus dari pondok, saya melanjutkan sekolah di Banyuwangi - Jawa Timur. Disini, saya mengikuti ekstrakulikuler “INKAI”, salah satu perguruan karate-do Indonesia. Tertarik mengikuti beladiri, melihat ayah yang menjadi pelatih di perguruan silat “Sinar Putih” di tempat kami, dan beberapa kali mengikuti ujian di pantai Parangkusumo -  Yogyakarta.

“Kayaknya sih keren ikut beladiri, bisa tambah macho, kan” gumam mulanya. Latihan berjalan lancar setiap Senin, Kamis, Minggu. Disini, saya hanya mampu mengumpulkan dan menyelesaikan sabuk kuning, Kyu-8, sampai saya memutuskan untuk pindah sekolah ke daerah asal. Di sekolah baru, ekstrakulikuler karate menjadi sorotan pertama, dan tanpa berpikir panjang langsung mendaftarkan diri. Sayangnya, perguruannya berbeda aliran dengan sekolahku dulu, disini menerapkan aliran goju-ryu. Memang agak berbeda, karena dari segi jurus dan teknik sangat mudah dijumpai perbedaannya. Saya benar-benar jatuh cinta dengan perguruan ini karena sangat mudah dilakukan. Lewat ketekunan, saya pernah mengikuti beberapa kejuaraan, diantaranya mewakili kontingen Jembrana menuju kejuaraan karate se-Bali dan Banyuwangi, juga PORSENIJAR tingkat kecamatan dengan menampilkan “Kata” (Seni Karate). Sabuk hijau dengan kyu-5 pun berhasil saya kantongi.

Sayang, saat kelas 2 semester akhir, kaki saya sempat operasi karena terlalu sering tergesek lantai dan memang termasuk kaki yang sensitif (kata dokter). Semenjak kejadian tersebut, sudah tidak aktif lagi karena alasan kesehatan serta fokus Ujian Nsional, meskipun jiwa saya masih ada disana.
Dua tahun berlalu. Di kampus, Pada penghujung tahun organisasi di jurusan, kami menampilkan persembahan-persembahan yang mungkin bisa ditampilkan. Saya diminta untuk menampilkan seni beladiri yang pernah saya tekuni. Pada awalnya menolak, karena memang pakaian saya sudah tidak setomboy dulu lagi, dan Gamis-gamis panjang selalu mewarnai tiap harinya. Akhirnya setelah berpikir panjang, saya menyanggupi, namun dengan menggunakan kaos kaki dan deker panjang didalamnya aga aurat tetap terjaga meskipun pada akhirnya harus menggunakan celana dogi (baju karate).  Tapi saya pikir pakaian ini tidak terlalu ketat. It’s oke lah..

Latihan seminggu cukup membuat fisik tidak kaget saat tampil di depan umum. Tepuk tangan penonton cukup memberikan rasa puas setelah lama tidak pernah berlatih dan tampil lagi. Namun saya berjanji ini adalah pertunjukan yang terakhir kalinya meskipun sempat tampil sekali lagi setelah acara ini. Saya benar-benar merasa berdosa, hehe

Malam ini, depan poliklinik UIN Sunan Kalijaga Yogyakrta menampilkan aksi yang dimainkan oleh perguruan Silat “Cepedi”. Sangat mengagumkan. Tak hanya laki-laki, perempuan juga ikut unjuk kebolehan, baik memecahkan bohlam lampu, seni beladiri, sampai memecahkan batako. Sempat iri melihat ke-macho-an perempuan-perempuan tadi. Ingin rasanya mengikuti lagi beladiri yang orientasi besarnya untuk melindungi diri apabila suatu saat dibutuhkan. Tapi sayang, pilihan jalan hidup menolak itu. Dunia beladiri menghilangkan sekat antara laki-laki dan perempuan, dan paradigma itu memang sedang saya jauhkan. Akhrirnya dengan sangat menyesal saya mengurungkan niat dan tetap menjadikan beladiri sebagai mantan serta akan tetap menjadi kenangan. saya hanya berharap, suatu saat mendapatkan imam yang pernah mengikuti beladiri sehingga dapat melindungi saya jika dalam keadaan darurat. Di samping hal tersebut, siapa tahu ilmu beladirinya bisa saya pelajari setelah menjadi sepasang kekasih nanti. Aminn..

1 komentar: