Kamis, 26 Februari 2015

Cara Ampuh Melupakan Mantan

                              



Nah ini ni penyakit anak muda zaman sekarang. Galau. Sayangnya para ahli belum berhasil menemukan obat yang ampuh. Gejala yang ditimbulkan antara lain GeGaNa, apaan sih? gelisah, galau, merana. Nggak main-main loh efeknya, kemungkinan terburuk nyawa bisa melayang. Ngeri kan? Beberapa waktu lalu, aku pernah merasakan hal demikian, pun kawan-kawan kos saat pertama kali masuk kuliah yang labilnya minta ampun. Nih sedikit sharing untuk meringankan penyakit misterius ini.
1.      Hapus semua kenangan
Nah piye? kan di bangku sekolah dulu yang diajarin cuma mengingat, tapi nggak pernah tuh diajarin ngelupain. haish,, ini sebenarnya praktik yang paling sulit. helloooo,, orang yang selalu ada disamping kamu tiba-tiba harus dilupain gitu aja. nggak kebayang kan. Iya sih, tapi bulatkan tekadmu bahwa kamu harus ngelupain dia. Yang bisa ngejawab ya cuma waktu. Selain itu kamu juga bisa menghilangkan jejak doi dengan ngehapus nomor hp nya, ngeblock facebooknya, atau sosmed2 lain yang menurut kamu bisa mengingatkan dengan dia lagi. tapi ini untuk sementara doang ya? setelah berhasil move on, silakan sambung lagi silaturrahimnya. oiya, jangan lupa bakar foto-fotomu dengan doi ya? tapi ingat.. emosi sih emosi, jangan salah bakar juga. sasarannya bakar foto eh malah bakar rumah.

2.      Pikirin hal buruk doi
Tips satu ini patut dicobain juga guys, meskipun natinya kepala-kepala kita bakalan ngeluarin sedikit tanduk. How come? Ya itu.. kita harus mikirin keburukan-keburukan yang pernah doi lakuin. Misalnya doi pernah tiba-tiba garuk-garuk muka kamu, atau saat kamu mau dibonceng sama dia eh ternyata dia jalan duluan, pas diliat kamu malah di posisi jatuh ke tanah, atau pas kamu lagi makan, kamu bela-belain nyisain daging buat dimakan paling akhir eh dia malah ngambil dan makan seenaknya. Pokoknya apa aja yang buruk tentang doi, pikirin deh,, itu sedikit mengurangi penyesalanmu harus pisah sama doi.

3.      Sibukkan diri
Tips berikutnya kamu bisa nyoba dengan nyibukkin diri dengan hal-hal positif ataupun hobi-hobi kamu. Dengan ngisi waktu luang, kamu bisa sedikit terfokus dengan apa yang kamu lakuin, jadi bisa sedikit mengurangi intensitas fokusmu ke doi. Gimana caranya? Nah kamu bisa isi dengan baca buku di perpustakaan, travelling, diving, ngeblog, sharing dengan teman, atau kalo hobi kamu panjat pohon kelapa, lanjutkan.. lumayan bisa nambah-nambah penghasilan juga. Pikirin juga masa depan kamu. Hey? Orang tua nyuruh kita nuntut ilmu, masak kamu kecewain mereka dengan tingkahmmu satu ini. Buatlah target-target ataupun rencana pendek maupun panjang agar kamu jadi orang sukses. “Buatlah dirimu berkualitas, maka cinta berkualitas juga akan datang kepadamu”.
4.      Tuangkan ke dalam tulisan
Belum pernah nyobain sih, tapi bisa juga nih. Gimana rasanya setelah kamu menulis kisah yang kamu jalanin ke dalam diary?? Sedikit ada kepuasan kan? Nah.. bisa juga nih sedikit ngurangin kesel-kesel ataupun unek-unek yang kamu malu mau nyeritain sama teman kamu. Bisa juga disela-sela nulis kamu tumpahin semua kekesalanmu dengan nangis (buat cewek), memang nangis bukan menjadi solusi tapi setidaknya bisa sedikit ngasi ketenangan. Dan setelah nangis kamu harus janji dengan diri sendiri harus bangkit dari semua ini.
5.      Dekatkan diri dengan Tuhan
The last one, Jurus paling ampuh sejagad ni guys. Buktiin deh.. tingkatkan intensitas interaksimu dengan tuhan, maka ketenangan bakalan kamu dapetin. Waktu-waktu kamu inget sama doi, coba deh alihkan dengan ngelakuin ritual-ritual keagamaan.


Beberapa tips ini nggak ada yang bisa ngejamin kesuksesannya, tapi bisa dicoba kok, nggak bayar dan lumayan bisa ngobatin kalo serius dijalanin. Yang belom pernah mengalami pacaran, lebih baik simpan deh perasaannya sampai waktunya tepat.
Dan yakinkan diri kalo kamu bakalan bisa move on dari doi, dan kamu harus tau “laki-laki baik buat perempuan baik, dan perempuan baik buat laki-laki baik” semangat guys ^^ kamu baik dan pasti akan dapat yang lebih baik dari doi.




Minggu, 22 Februari 2015

This is a Miracle

What the meaning of Miracle?? The Miracle is a plane
hah? bengong kan? yah,,, bagiku, pesawat itu bagaikan keajaiban. Kok bisa?
This is me, and I wanna be a plane, tapi bukan brarti aku ingin jadi  transportasi umum lho ya? gile aje didudukin berjam-jam, kena panas, hujan, badai dan sebagainya. tapi itu sebenarnya yang menjadi inspirasiku. You know that a plane is from nothing, but it can be something and make an imposible to be available. Dia mampu lho mematahkan persepsi kalo orang itu nggak bakalan bisa terbang, padahal dia cuma terbuat dari lempengan-lempengan bahan konduktor yang disusun dan dirangkai dengan sempurna, menyerupai burung tengah mengudara di langit biru, menembus awan yang..*cetaaaak, lebay.
Lempengan-lempengan tadi disusun dengan penuh ketelitian karena menyangkut keamanan penumpang, disemati teknologi canggih, serta diisi dengan bahan bakar yang cukup untuk menuju destinasi. 
Now, everyone can fly
                    
I wanna be like that. from nothing for something. aku memang bukan siapa-siapa, yang akan aku lengkapi dengan pengetahuan, diisi dengan ridho Allah dan doa orang tua, dengan demikian, aku mampu menjadi something for everyone. hujan, panas, dan badai kehidupan, huuusss, sanaaa.. bakalan musnah perlahan. 
Sempurna..
Dengan begitu, aku akan mengudara, menembus langit Indonesia menuju langit dunia bagian lain, berada di tengah-tengah awan.... dan akan aku pijakkan kaki di seluruh dunia.
Ini yang menyebabkan aku selalu khusyu' menoleh pas pesawat lewat. Sebagian orang bilang aku ndeso, tak pernah naik pesawat, dan sebagainya. tapi aku tak peduli. kadang pesawat lewat diatas kepala bisa jadi moodbooster lho, cobain deh kalo nggak percaya. Dan yang paling aku sulit percaya adalah, ketika aku mampu diajak melihat awan di bawah maupun diatas pesawat  pada ketinggian 32000 kaki. Dan inilah alasan yang paling Subhanallah, Why? karena pesawat membantu menyadarkan aku bahwa di atas langit masih ada langit. it's mean, don't be arrogant guys..

#IDKS

Selasa, 17 Februari 2015

Koperpacker #2

oke, lanjut cerita kemarin yang koplak nggak ketulungan itu, pagi-pagi kami sudah berkemas siap ngebolang di negeri antah berantah ini. belum abis koplak kemarin, Si Nisa sudah bikin perut jadi lemes aje gara-gara ngetawain. bayangin boooo... jauh-jauh ke luar negeri cuma buat ngisi KRS, aje gileee, deket UIN warnet udah penuh kali ye? 

--Hari Pertama--
fix kita berangkat jam 10 waktu setempat buat menjelajah dengan itinerary yang sudah kita susun secara lengkap dan detail, berangkat lah kita berbekal peta, peta?? kita dah macam Dora, cuma bedanya kita lebih sering ganti baju daripada Dora yang nggak pernah sama sekali.
sebelum ke spot yang jauh-jauh, kita sedikit mengelilingi Chinatown yang menjadi lokasi penginapan kami. tak hanya kampung China, daerah dekat sini juga ada beberapa spot yang bisa dijadikan objek tujuan, meskipun sedikit berkhianat karena lokasi itu nggak masuk dalam itinerary yang lengkap kayak kamus Inggris-Indonesia 200milyar. ini dia tempatnya, taraaaa
Sri Marriaman Temple


Chinatown pagi hari

Masjid India
Oh iya, sedikit informasi, air-air kran di Singapore ini sudah sangat higienis, jadi tak jarang kita ngeliat orang yang langsung minum dari tempatnya. nah atas dasar inilah, jauh-jauh dari Indonesia aku bawa botol, ya sekalian ngirit kan, ingat prinsip backpacker, hemat jeng,,hemat #tepok jidat. setelah sedikit ngabisin waktu di tempat-tempat tadi, akhirnya kita pergi ke closest station, Chinatown. Bingung juga sih gimana cara memahami rute-rute yang bakalan kita ambil, belom lagi station ini ada 4 lantai, gila, dalam hati sempet nanya juga sih, ni orang Singapore gimana ngeruk tanahnya ya? jangan-jangan pas naik monorail, tanahnya runtuh lagi, dasar ndeso, hal nggak penting pun dipikirin juga. Setengah jam melototin papan, aku mulai paham rute mana yang harus aku ambil. 5 Menit nunggu, monorail yang bakalan ngangkut aku dan Nisa pun datang, kecepatan melesat yang sudah aku pelajari dari karate aku aplikasikan buat masuk train, ceile,, next spot adalah little India. tak lebih dari 10 menit, kita sudah sampai di lokasi. nah, keluar dari monorail, kita harus naik ke lantai pertama untuk keluar dari stasiun, pas lagi jalan, tiba-tiba Nisa nanya, "Han, ada kebakaran ya?" *cemas
wajar lah nisa bilang gitu, bayangkan, ratusan orang yang hilir mudik bererbut jalan bak yang paling sibuk sedunia, belum lagi gaya berjalan cepat yang menjadi ciri khas pejalan kaki negara maju. Ini lebih mirip orang yang nyelametin barang pas pasar lagi kebakaran kali ye??
"excuse me mr, how to get Little India from here" sok2 Inggris dan sedikit huruf "R" nya diilangin, dan akhirnya beneran ilang. "oh, you are in Little India right now". mungkin maksud bapak itu kita udah ada di kampung India kali ye? aku pikir little India cuma nama tempat. eh buseeet, kalo gini critanya, mau kemana ini?
"Cha, kita mau kemana ini?"
"Kita jalan aja han, dimanapun nanti tembusnya"
5 menit jalan kaki, kita nemuin food court dan cacing-cacing dalam perut berusaha menghasut otakku, "Ayo hana, belilah,,beli,, kau dah lapar kan?"
akhirnya aku lambai tangan di kamera, nyerah mas..nyerah.. dan taraaa, dari sekian stand makanan, aku lebih milih murtabak chicken jadi santapan siang ini.
"I wanna Murtabak Chicken, one only" ha? Inggris logat apa ini?
"tak pesen yang S$6 sekali, kau orang boleh makan bedue" yaelah, bisa Melayu cakap dari tadi keles pak, ketahuan deh kacaunya Inggrisku.
"yelah tu pakcik, saye ambek yang besar sikit"
5 menit kemudian..
Murtabak Chicken With Kari
Rasanya? Mmmm.. aneh, #ngelirikliciklalulupakan
Setelah berusaha menelan beberapa suap, aku kembali melambaikan tangan di kamera, nyerah mas,,nyerah, dan Nisa pun menyusul. Emang dasar sih porsi orang India, aku pikir ini bisa dimakan 4 orang. Mana rasanya nggak pas sama lidah ndesoku
"PakCik, boleh minta plastik tak? tak habis lagi makanan kite, banyak sangat ni"
"oh, kau orang tak abis lagi ye?boleh..boleh, mari bawa sini, biar pakcik kemaskan"
akhirnya.. kita mutusin buat bungkus sisanya, lumayan buat persediaan nanti sore. Inget prinsip backpacker #tepokjidatlagi
siap makan, kita melanjutkan menjelajahi desa India ini. Benar.. kira-kira 80% penduduk disini orang India. iyalah.. kalo orang Jawa, jadi kampung Jawa lah namanya, akupun mentertawakan statement yang aku buat sendiri ini.

"Mustafa Centre" tertulis dalam peta yang bisa dijadikan spot selanjutnya. Dengan bertanya sana-sini, dengan Inggris kacau, ditemani bau rempah khas India yang sedikit bikin Vertigoku kumat, akhirnya kita sampai di lokasi. Ternyata, MustafaCentre itu semacam pusat perbelanjaan, kirain museum-musem dkk gitu. tapi tak apelah, seru juga perjalanannya.
Mustafa centre building



lokasi sekitar
sediki berkeliling, kami mutusin buat ngelanjutin perjalanan karena masih banyak yang harus kami jelajahi hari ini. kembali ke MRT station, kami melanjutkan perjalanan dengan monorail, lokasi selanjutnya Bugis street, katanya disini tempat belanja oleh-oleh yang murah. Dengan stamina yang cukup stabil, aku mengumpulkan kekuatan jiwa emak-emak, kayaknya lokasi ini  bakalan ngabisin waktu yang cukup lama. dan benar saja, hanya untuk membeli miniatur sebanyak 2 biji, kita harus berkeliling-keliling dan beberapa kali menawar dengan sadis. Finish.. kita dapat S$5 untuk 2 biji.
"Cha, Perpus yok, mau baca buku ni, eh, cuma pengen liat-liat sikon perpus disini aja"
akhirnya kita mutusin buat ke perpus nasional, lokasinya nggak jauh dari Busgis Street, jalan kaki 10 menit udah nyampek. saking capeknya atau efek kelaparan, "excuse me, where is The National Library?"
"you can see that" alamaaaak, perpusnya udah di depan kita, yaelah sekate-kate ni mata.
bak laki-laki yang ngeliat perempuan aduhai, mataku memandang detail dari bawah, sampai gedung paling atas, dan tak sadar aku udah berada di posisi kayang saking tingginya, #alay
Aku mendekati pustakawan dan mencoba minta gambar dengannya, tapi jawabannya makjleb banget,
"Excuse me Miss, Could I take a picture with u please, I'm from Indonesia and took Library Informaton Science major, I wanna see all of this Library and know Librarian a little bit"
dengan senyum pepsoden dia jawab "I'm Sorry, no camera here, u can see that (sambil nunjuk cctv dipojokan) and I m glad too meet u, that's good major."
Yelah tu, sembari lambai tangan di kamera cctv, aku mutusin buat ngeliat-liat aja, nggak jadi deh ngambil gambar sama pustakawannya. tapi aku akan tetap ambil gambar di ruangan ini apapun yang terjadi, nggak peduli ada cctv atau nggak #mukaliciklaluhening
Library Building

Collection room

Collection room for children

Nah ada kejadian lucu dikit nih gara-gara tingkah partner perjalananku yang sedikit koplak. Kita semua udah tau kan kalo Singapore itu main denda-denda aja kerjaannya, beda banget sama Indonesia yang ada sistem denda tapi nggak terorganisir baik. denda disana nggak main-main lho, S$1000 booo cuma buang sampah, dan tegas dijalanin. bakalan jadi TKI ni kalo kena denda segitu, dengan begitu ceritanya TAMAT. *eh
Lepas dari Perpustakaan, kita mau nglanjutin perjalanan Ke St. Arab, nah setelah kita tanya-tanya, ternyata bisa ditempuh dalam waktu lebih kurang 15 menit, lumayan bikin gempor kaki yang emang sudah gempor ini. 
"Han. kakiku lecet nih dibelakangnya," dengan kecerdasanku yang luar biasa oon, "Ni cha, pake'in tisu aja, tadi sudah aku bilang pakek kaos kaki biar nggak lecet" (padahal kalo tali belakang sendalnya diinjak pakek tumit, masalahnya bakalan kelar). Akhirnya dipakeklah tisu buat nyumpal luka lecetnya Nisa. Sekitar 5 menit kemudian, nisa bilang "Han, kok masih perih ya?" trus pas kita liat belakang kaki NIsa, eh tisunya udah nggak ada, dan aaaaaaa... tisunya terbang. dalam pikiranku langsung kebayang S$1000, dengan kekuatan badai dan matahari, kita berdua lari-larian ngejer itu tisu dan tiiiiiitttttt... klakson mobil bunyi-bunyi ngeliat kita hampir nyebrang sembarangan. "mampus kita Cha, S$1000.. Jangan-jangan kita nggak bisa pulang lagi," *cemastingkatdewakemudiantidur
"Kau liat cctv nggak han, kita kabur aja yuk" akhirnya kita melarikan diri dari incaran polisi (loh, mana polisinya?)
Nah, usut punya usut, kasusku tadi itu nggak termasuk buang sampah sembarangan karena ada unsur ketidaksengajaan. Yaelah, udah bela-belain lari sekuat tenaga yang disambut tatapan aneh native disana-mungkin kita dikira korban Maklampir yang lagin nyelameti diri-eh ternyata bukan termasuk kasus. Sekate-kate ni aturan Singapore. Tapi aturan-aturan semacam ini yang bikin Singapore jadi terorganisir sangat baik, dan menembus jadi salah satu negara maju dari Asia Tenggara.






Sabtu, 14 Februari 2015

koperpacker


kali ini aku akan cerita tentang pengalaman kamseupayku yang sok abroad2 gitu lah. ditemani Nisa, si Medan Tulen yang nggak ketinggalan logat Medannya. kebayang kan dengar celotehan Medannya dalam keadaan darurat?
Cerita ini bakalan mengupas tuntas kisah perjalanan ke Singapore setajam silet, #ala mata melotot ngeliat duit segempok. perjalanan sekitar 6 hari; 2 hari Singapore, 4 hari Malaysia dengan budget maksain bin kere bin ecek-ecek bin kanker dengan itinerary yang lengkaaaap banget gaya2 kamus Indonesia-Inggris yang katanya 200 Milyar. whatever lah, yang jelas budget ala mahasiswa Jogja.
Usut punya usut, gini nih awal mula kita berangkat yang keberangkatannya nggak terduga. September 2014, tepatnya semester 3 lalu, penyakit langgananku, vertigo-yang kata kawanku diplesetin indigo-kumat lagi. nah,, perlu rehat total toh? siapa sih yang nggak bosen baring seharian nggak ngapa-ngapain? sok2 nanyain, padahal aku sendiri bakalan jawab paling kenceng dan nunjuk tangan paling tinggi "Saya Pak, sayaaaa". iseng2 aku buka website airasia.com dengan rute perjalanan Yogyakarta-Kuala Lumpur, kaget bukan kepalang ngeliat harga 500ribuan. Macam mana pula nggak kaget, orang harganya sama kayak aku balik ke Bali. aku kabarin lah Nisa.
"Mahaaaaalllll..." yaelah nis, udah lebih murah dari tiket ke Bali, kali. yasudah tenang,, tenang,, aku ngikut aja gimana cari alternatif lain. akhirnya setelah berunding 7 hari 7 malam dengan 7 kembang serupa tapi tak sama, sepakat buat ngakalin terbang ke Johor Bahru dengan harga 255rb, langsung joss ke Singapore, joss lagi ke Kuala Lumpur kalo dah bosen di Singapore. nah, pulangnya kita ngambil rute KL-JKT, soalnya ada urusan penting di Jakarta; ngunjungi neneknya Nisa. Pas di Agen Air Asia Bandara Adi Sutjipto, harganya alamaaaaaak, sejutaan broh. kumat deh jiwa emak-emaknya yang mendatangi semua agen buat dapet harga semurah-murahnya, kalo bisa gratis sekalian. Di agen Lion Air, aku ditawarin harga 350ribuan dg bagasi 20kilo. tanpa pikir panjang aku telfon si Nisa. "Nis, harga 3ratusan, gimana? ambil tak?" IYA HAN, IYA,, BISA JADI BISA JADI. #masih jaman ya eat Bulaga?
akhirnya aku ambil itu tiket, tapi kalian tau pemirsa, apa yang dijawab mbak-mbak loket itu? jedeeeerrrr.. "maaf mbak, harga tiketnya udah naik, sekarang yang termurah di harga 560ribu, gimana? saya booking dulu biar nggak naik lagi harganya" "oke mbak.. saya nggak ingin semua yang sudah terjadi  terulang kembali, saya terima semuanya dengan lapang dada"
Fix, berangkat 19-26 Januari 2015. Dan kita berdua belum punya paspor. Akhirnya kita mutusin bikin paspor 3Minggu sebelum keberangkatan, dan jadi seminggu kemudian. daaaann.. taraaaaa,, jadi deh paspor ijo kecil yang unyu, ditambah wajah khas keibu-ibuanku di kolom foto.
oh iya, Nisa punya kaka yang tinggal di Singapore yang membantu kita membooking penginapan, ya maklumlah, kita orang nggak punya kartu kredit buat mesen. aku nuker uang sejuta buat Singapore, dan sejuta lebih dikit buat Malaysia, dengan kurs waktu itu RM1=Rp. 3600 dan S$1=Rp. 9600.
Ini penampakan duitnya


beberapa Minggu sebelum keberangkatan, tepatnya tanggal 28 Desember 2014, maskpai Air Asia rute Surabaya-Singapore jatuh di perairan selat Karimata. makjleb banget kan, gimana ini?
doktrin buruk datang dari setiap sudut yang bikin kuping panas, pas banget lagi musim ujan melengkapi kekhawatiran. Dalam hati sempat berpikir, "nggak usah berangkat lah". mana si Nisa bilang, "Han, siapin fotokopian paspor sama KTP, kita nggak tau ajal kita dimana, kalo ada identitas, nanti bakalan gampang proses identifikasi, jangan lupa diplastikin biar nggak basah" Ni si Nisa sudah ada firasat apa gimana sih? bikin tambah takut aja.
akhirnya dengan segenap kekuatan, berangkatlah kita ke Bandara dan hampir ketinggalan pesawat, gate nya udah mau ditutup brohh,, dengan kecepepatan 80Km/jam, aku lari ke pesawat. Di dalam kabin pesawat baru sempat menelepon orang tua, minta restu perjalanan dan siap terbaaaang.
sedikit ngebayangin ngerinya dalam pesawat yang saudaranya jatuh kemarin di selat Karimata, mana lama banget lagi; 2 jam.
"Allah mengikuti prasangka hamba-Nya", 5 menit setelah lepas landas, hal yang aku takutkan terjadi. pesawat yang aku tumpangi mengalami turbulensi. dan akhirnyaaa pesawatnya turuuun,,, naiiiik,, semua penumpang bersorak, huu haa.. mulutku segera komat kamit dengan doa yang aku hapal, doa makan pun ikut masuk ke dalam rangkaian doa ku.
2 jam kemudian..
Alhamdulillah, landing juga..
Senai International Airport, Johor Bahru
                                           


Sesampai di Bandara, aku langsung ke kantor imigrasi, menyerahkan paspor, dan tiba-tiba "ente nak melancong e?" pertanyaan berkecepatan tinggi itu mengagetkanku dan bikin bingung, ibu itu ngomong apa sih? mungkin ibu imigrasi itu curiga saya teroris atau TKI kali ye? ngeliat busana yang aku pakai lumayan panjang dan tertutup, tapi bagiku, apapun hinaan orang, dimanapun kita berada, identitas muslimah haruslah tetap dipegang dan konsisten.
Lolos imigrasi, kita langsung keluar dari bandara dan ngelirik orang-orang, kemana mereka pergi setelah turun dari bandara, dan banyak diantara mereka yang langsung naik bus yang bertuliskan "Causewaylink" dan alhasil, kita ngekor di belakangnya. setelah beberapa menit bertanya-tanya dengan sopir untuk memastikan bus yang kita naiki benar ke arah Singapore, akhirnya kita menimbulkan antrian berekor yang bikin mereka bisik-bisik, mungkin ngomongin kita, PeDe akut, lalu kita membayar RM3,5.
Setengah jam perjalanan, sampailah kita di terminal Larkin. disini kita harus naik bus lagi yang jurusan Woodlands-Singapore-dengan bus nomor 170 biaya RM1,5 dengan total transportasi ke Singapore RM5 atau sekitar Rp. 18.000. Sepuluh menit berlalu, kita disambut dengan sunset di perbatasan Malaysia-Singapore, rasanya lelah tadi sedikit terbayar.
bus 170

Sunset perbatasan Malaysia-Singapore

15 menit kemudian, kita sudah tiba di Woodlands-Imigrasi-Singapore. Nah, dengan wajah innocent, kita nyelonong aja ke pejabat yang ngasi stempel, alhasil kita disuruh mundur lagi karena harus ngisi formulir sebelum masuk Singapore. alamaaaak, dengan bahasa Inggris yang pas-pasan, kita udah kayak ngisi soal Ujian Nasional, dan setengah jam baru kelar boooo.
Lolos Imigrasi, Nisa sudah janjian ketemu sama kakanya-katanya pake baju merah- di bagian luar kantor Imigrasi. turun dari imigrasi, kita sudah sangat mirip dengan ayam kehilangan induknya, pulsa nggak ada, yang jual Simcard nggak ada, nisa pun nggak tau sama kakanya, yang parah lagi, kita nggak tau arah luar imigrasi, gede banget brohh kantornya, akhirnya kita mutusin buat nanya bule, eh sekarang kita yang bule ya? yaudah ralat, kita nanyain native disana, dengan bahasa Inggris logat Indonesia, alhasil diapun nggak ngerti dan cuma bisa planga plongo ala galau-ers ngeliatin kita ngoceh, yaelah,, akhirnya kita cari orang Melayu yang lebih mudah kita pahami, karena bahasa Ibuku adalah bahasa Melayu, jadi Melayu isn't a problem for me (sok banget). dan taraaaa... akhirnya sampai di bagian luar Woodlands setelah keliling kesana kemari atas bawah, nggak sampai disitu, kita kembali planga plongo karena nggak bisa ngapa-ngapain. Dengan ide kreatif si Nisa dengan meminjam telfon ke orang-orang sekitar sana, setidaknya membantu kita terbebas dari planga plongo, ya sedikit memberi kegiatan lah meskipun hasilnya nihil sama sekali.
"Mas, boleh pinjem Hp, kite orang nak telfon kaka, kite dari Indonesia dan belom punye simcard" dengan ala2 Melayu gaje, Akhirnya nisa dipinjamkan hape meskipun dalam hati sempet bertanya-tanya, kok si nisa panggil Mas? emangnya Singapore itu sebelah mananya Jawa sih?
Nihil.. bingung.. bolak balik plototin ribuan orang yang pakek baju merah, sejam kemudian, akhirnya,, Alhamdulillah, ketemu dibawah tangga kantor imigrasi. untung nggak ketemu dibawah alam sadar. Next, kita naik bus untuk ke stesen/stasiun Woodlands untuk naik MRT (monorail) ke Chinatown-tempat yang akan kami tempati-dengan membawa kesana kemari koper ala Indonesia kami, akhirnya aku sebut perjalan ini dengan "koperpacker".
Sejam perjalanan, pukul 21.00 waktu setempat, tibalah kami di Chinatown, ini sedikit penampakannya.



nah, ingin tau kelanjutan kisahnya, nanti nyambung ke koperpacker #2 ya?? check it out..


Senin, 09 Februari 2015

Backpacker Gadungan


Hobi?? That's right, ini pembahasan yang menarik. entah mulai kapan, yang jelas dari dulu saya paling suka travelling. apa? nggak punya uang? sama.. saya pun tak ada duit. emang sih modal dasar itu duit, tapi setidaknya kita bisa menekan budget yang bakalan dikeluarin. solusinya?? ya ngegembel lah.. 
Travelling sebenarnya bukan cuma sekadar jalan-jalan. Travelling adalah obat stres dari rutinitas yang bikin otak jadi mumet. selain itu, travelling bikin kita sadar betapa kecilnya kita di hadapan tuhan. Subhanallah banget kan?? yelah, jawaban anak UIN. Berikut sedikit cerita ngegembel di negeri seberang yang berhasil saya lakukan.
Berawal dari travelling yang sudah saya lakukan sebelumnya, dengan keberanian dan tekad yang bulat, saya putuskan untuk ngegembel di negara tetangga.
budget berapa?? tidur dimana?? makan macam mana??
oke sabar.. sabar..
Semua ini berawal dari obsesi. Tanpa obsesi, semuanya akan terasa berat (terutama masalah dana). untuk travelling kali ini saya berhasil menjelajahi 2 negara (first time) dengan budget rata-rata dua juta (termasuk tiket PP pesawat). secara singkat saya akan bahas.di negara Singapore saja, takutnya kalau kedua negaranya saya bahas, malah jadi buku. Hairun Nisa, teman seperjuangan untuk menggembel, memiliki obsesi yang sama, dengan begitu fix berangkat.
berangkat menggunakan maskapai Air Asia Malaysia, membuat saya sedikit shock karena beberapa minggu sebelum keberangkatan, maskapai yang sama mengalami kecelakaan. Muka sempet pucat pasi juga. alamaaak, dalam benak pengen dioper aja tu keberangkatan. Beberapa orang teman bahkan sempat mengintimidasi terkait maskapai tersebut. tapi apa daya? tiket sudah di tangan, sayang kan kalo nggak berangkat? 
Senai International Airport

Kami siasati untuk berangkat ke Johor Bahru terlebih dahulu sebelum akhirnya bertolak ke Singapore untuk mendapatkan biaya terbang yang lebih murah. Modal nekat, restu orang tua, Bahasa Inggris pas-pasan, sampai lah kita ke Singapore. Sesampainya di Woodlands-kantor imigrasi Singapore- bingung mau ngapain dan nanya sama  siapa, akhirnya setelah minta stempel ke pejabat imigrasi, paspor kita ditolak karena harus ngisi form. butuh setengah jam ngisi form kayak gitu karena energi sudah lumayan terkuras. Bayangkan perjalan dari siang-malam, tiba disana langsung disuruh ngerjain ujian Nasional. begitu kira-kira plesetannya.
Bebas dari imigrasi, bergegas lah kami menuju stesen/station untuk membeli STP (Singapore Tourist Pass) seharga S$16 untuk dua hari. Kartu ini digunakan sebagai pengganti uang untuk alat transportasi di Singapore, jadi kalo naik MRT (monorail) tidak membutuhkan uang tunai lagi.

Sebagian besar masyarakat Singapore lebih memilih menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi karena dinggap lebih nyaman dan murah disamping biaya parkir kendaraan pribadi dipatok dengan harga selangit. Sekitar satu jam menggunakan MRT, tibalah kami di Chinatown, tempat penginapan yang sudah kami pesan beberapa hari sebelum keberangkatan. Biayanya lebih murah ketimbang beberapa informasi dari mbah google yang sempat saya cek, budget yang kita keluarkan S$11/malam untuk satu orang, lumayan untuk ukuran Singapore yang serba mahal. Rehat sejenak sambil menunggu matahari terbit. Tak sabarnye nak bertualang esok, daaan.. taraaaaa.. ini dia beberapa tempat yang berhasil kami jelajahi dalam waktu 2 hari.
Chinatown

Masjid India

Sri Mariamman Temple

National University of Singapore

National Library Singapore

Bugis Street

Malay Heritage Centre

Marina Bay Sand

Esplanade Building (gedung Durian)

Sultan Mosque

Little India

Merlion Park

Pertunjukan malam di Marina Bay Sand

Universal Studio

Sentosa Island

Dah dulu ye? Next time kite sambung lagi ceritenye. Masih banyak trip yang ingin saye bagi, tapi tak sekarang, dah ngantuk sangat ni mate.. 
oh iya,, nanti kita backpacking bareng, mau??






Sabtu, 07 Februari 2015

Jurusan Unik di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Beberapa bulan setelah kelulusan SMA, sebagian besar teman-teman sedikit kepo dengan jurusan masing-masing yang kita kejar . Begitu tau jurusan yang saya ambil cukup asing bagi mereka, “Ilmu perpustakaan”, Berbagai reaksipun saya dapatkan.
“Han, kuliah ngambil jurusan apa?” rata-rata sih nanya dengan kalimat yang sama, “Ngambil hikmahnya aja, eh maksudku ngambil jurusan Ilmu Perpustakaan”. Ini reaksinya.
  1. Oohh, ada ya jurusan kayak gitu? *garuk-garuk muka kebingungan tingkat dewa.
  2.  Jurusan apaan tuh? Baru denger.
  3. Emang, jurusan itu belajar apa aja? Perasaan cuma perpustakaan doang masak harus sampek kuliah? *kedip mata terus-terusan gara-gara shock
  4. Oh… *hening
  5.  Kalo ngambil jurusan itu, nanti bisa jadi apa? Tukang jagain buku kah? (padahal pustakawan jaga hati juga pandai ^^)
  6. Hah? Peting ya jurusan itu?

Sempet garuk-garuk tembok juga sih denger jawaban yang sedikit nyungging kayak gitu, eh nyinggung maksudnya, tapi ya sudah lah, apa daya saya yang harus menerima dengan lapang dada. *ngelus dada

Sebenarnya ada beberapa paradigma masyarakat yang harus diluruskan oleh pustakawan maupun calon pustakawan yang selama ini sudah menjadi sesuatu yang dianggap benar mengenai perpustakaan. Masih banyak yang menganggap remeh jurusan ini tanpa alasan yang masuk akal. Tapi emang nggak bisa disalahin juga sih, siapa yang bisa nyalahin ibu mengandung?-loh malah nggak nyambung- Masyarakat selama ini masih menganggap profesi pustakawan itu bisa dilakukan oleh siapa aja, bahkan guru di sekolah pun dipaksa merangkap tugas di perpustakaan. Ckckckck,, bagaimana ini, tuan?

Oke, sebelum sesi salah menyalahkan lebih jauh, nih saya kenalin dikit sama jurusan kebanggaan ini.
Jurusan ini pada awalnya berasaskan potongan ayat pertama dalam surat Al-Alaq yang berbunyi ﺇقرﺃ yang artinya “bacalah”. Nah, berhubung saya kuliah di UIN yang notebene nya “Islam”, maka jawabannya sedikit Masya Allah. Tapi emang bener kok, dengan membaca, maka jendela pengetahuan itu akan semakin terbuka lebar yang mampu mencerdaskan individu yang mengusahakannya. Tambah bingung apa kaitannya dengan perpustakaan kan? Jadi gini, Allah menyuruh kita membaca, membaca bisa kita lakukan lewat media buku (berisi berbagai informasi), dan buku banyak terdapat di perpustakaan. Jadi fungsi perpustakaan secara umum menyediakan jasa informasi. 

Saya yakin, pasti banyak yang ngeyel bilang “kan membaca dan nyari informasi nggak cuma di buku doang, mbah google sedia 24 jam tuh melayani informasi dengan instan”. Saya jawab aja, “emang ada yang lebih bagus dari buku? Yang instan sih banyak.” *korban iklan.


ruang koleksi Perpustakaan Nasional Singapura

Trus, apa aja yang dipelajari dalam jurusan ini, check it out
Klasifikasi
Apaan tuh? Yaelah sabar bentar, jadi gini. Klasifikasi menurut KBBI adalah menggolong-golongkan menurut jenisnya. Buku memiliki banyak subjek dan harus diklasifikasi untuk mempermudah temu kembalinya. Selain sangat berguna di perpustakaan, pelajaran ini juga sangat bermanfaat loh bagi calon istri, kenapa? Karena nantinya akan mempermudah mengklasifikasi bahan-bahan dapur yang beragam jenis. Bakalan jadi istri idaman deh!!

Katalogisasi
Secara umum katalogisasi berarti mendaftar buku. Beribu-ribu buku yang ada di perpustakaan bakalan dibuatin katalog. Fungsinya untuk mendayagunakan bahan pustaka secara efektif dan efisien

Manajemen
Jangan salah, dalam ilmu perpustakaan, manajemen salah satu pelajaran wajib untuk mengorganisir hal-hal yang berkaitan dengan perpustakaan. Yang dipelajari antara lain manajemen koleksi dan manajemen perpustakaan. Manajemen keuangan? Ya atur sendiri lah.

Teknologi Informasi
Jangan heran zaman sekarang ngeliat pustakawan pada canggih-canggih, karena memang dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Kalo nggak canggih, gimana orang modern bakalan tertarik buat datang ke perpustakaan?

Kearsipan
Perpustakaan memang erat kaitannya dengan arsip, hal ini karena banyak serat-serat ataupun manuskrip yang harus disimpan dengan baik. Bukan perkara mudah, menyimpan bahan pustaka memerlukan pendidikan dan teori khusus.

Masih banyak lagi pelajaran-pelajaran yang kita kaji dalam jurusan ini, antara lain psikologi, pemasaran, komunikasi, etika, dll. Jadi, profesi pustakawan berarti profesi yang multitalent, bisanya nggak cuma jaga buku doang, tapi sedikit banyaknya tau beberapa subjek pengetahuan.

Koleksi Perpustakaan Nasional Singapura

Timbul pula pertanyaan yang paling umum, “trus, prospek kerjanya gimana?”

Tenang..tenang, pemirsa. Selain jadi pustakawan, jurusan ini juga mampu mengarahkan pengkajinya ke bidang arsip, teknologi informasi, finansial, maupun penganalisa data. Nggak percaya? Sedikit saya kasih bukti. Berhubung saya dari Bali, saya kasih contoh mahasiswa lulusan Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dari Bali juga. Namanya Indana, Awalnya beliau mendapat kesempatan magang di SD Sapen. Namun setelah lulus, beliau kembali ke daerah asalnya dan diterima bekerja di BRI Bali. Hal ini membuktikan jurusan ini tak melulu di bidang perpustakaan. Ini contoh real loh, nggak bohong, suer!!

Nah, panjang lebar kan penjelasannya? Saya pikir sedikit tau lah ya, sama jurusan Ilmu perpustakaan. Jurusan keren, manfaat banyak, prospek bagus. Kurang apalagi coba? Masih ngeyel jadi pustakawan nggak keren?? Hadeeehhh…Kebayang nggak sih kalian? Buku aja kita jagain, apalagi hati?
Salam Pustakawan!!

#IDKS