Selasa, 13 Oktober 2015

Relaksasi di Magelang

Kriiiiing... Kriiiiiiiiing....
Alarm berbunyi semakin keras. “Oh iya.. mesti siap-siap cepat ni, jangan sampai telat”
Aku bergegas mengemas kamar dan menyegerakan untuk membersihkan diri. Beberapa hari lalu, sudah kurencanakan weekend ke Magelang dengan sodaraku. Hari ini jadi hari H nya. Jam sudah menunjukkan pukul 06.05 WIB.

Hana : Rin, udah siap?
Ririn  : Otewe nda..

Sengaja kuajak Ririn untuk meramaikan perjalanan kami, biasa.. temanku satu ini memang agak cerewet, biar nggak mellow adem ayem gitu lah. Setelah berjumpa dengan Ririn, kami langsung bergegas menuju ke rumah saudaraku di Maguwoharjo, yang memakan waktu sekitar 30 menit.
Sampai disana, saudaraku bergegas cepat dan langsung berangkat setelahnya. Menempuh waktu sekitar satu jam, dan melewati medan yang cukup sulit, membuatku sedikit kewalahan mengendalikan motor yang kusetir. Lelah sudah pasti, namun terbayar dengan pemandangan di sisi kanan jalan dari Taman Nasional Gunung Merapi. Dalam hati sempat bergumam, “oh, jadi ini tempat aliran lahar pas gunung Merapi meletus beberapa tahun lalu”. Udara sejuk mulai menyeringai. Kemana saja kami di Magelang? Ikuti terus..

1. Ketep Pass
Source: Dok. Pribadi

Ketep Pas merupakan nama jalan yang sepanjang mata memandang terhampar beberapa kebun stroberi yang menjajakan jasa petik sendiri. Namun sebelum memasuki lokasi tersebut, beloklah ke kanan di gerbang yang diatasnya bertuliskan besar-besar “Ketep Pass” untuk memanjakan mata. Dengan membayar parkir IDR 7,5K, kita sudah bisa memasuki area ini. Harga ini tak imbang dengan pemandangan yang luar biasa. Terdapat satu spot yang biasa digunakan pengunjung untuk mengambil gambar karena memang lokasinya yang sangat strategis. “11:12 lah dengan view yang kita dapatkan saat take off dengan pesawat, hanya saja sensasinya lebih alami ini” komentarku bak pakar peneliti tempat wisata. 
nature view, source: Dok. Pribadi

Disamping berfoto, ada juga volcano theatre, juga art corner yang berisi lukisan-lukisan yang sangat menarik. Tidak akan menyesal datang kesini. Belum lagi didepannya ada penjual jagung bakar, yang bisa dibeli untuk mengganjal rasa lapar dan memberikan sedikit sensasi hangat.

2. Kebun stroberi
Source: Dok. pribadi

Di musim kemarau seperti sekarang, membuat stroberi tumbuh lebih besar dan segar. Tak ada salahnya mengunjungi kebun stroberi dan memetik sendiri buah-buah yang tersedia di dalam kebun. Hanya dengan membayar IDR2,5K, kita sudah bisa merasakan sensasi memetik stroberi secara mandiri dan disediakan juga keranjang dan gunting untuk memetik. Akan tetapi, buah stroberi yang cenderung besar akan dipanen terlebih dahulu pada pagi hari untuk dijual kepada pengunjung, jadi ya enggak usah heran kalau buah stroberi yang ada di dalam kebun tergolong kecil-kecil. 

Tak hanya stroberi, kebun ini juga menanam labu orange kecil, yang juga baru pertama kali saya jumpai. Biasanya, labu berbentuk ruas-ruas dan memiliki ukuran yang sangat besar, akan tetapi labu ini nyaris bulat dan berwarna orange terang. 

Setelah memetik banyak stroberi, kita bisa menimbang hasil panen kita ke penjual, dan bisa pula ditambah beberapa ons lagi untuk menyempurnakan timbangan. Rata-rata, perkilonya seharga IDR 50K, dan ukurannya besar-besar. Ada juga yang bertempat mika yang dijual dengan harga IDR 10K, dan aku tertarik membelinya 1 kotak.

Stroberi kiloan, source: Dok. Pribadi

Jangan ditanya besar stroberinya... ini dia penampakannya...
Buah di depan kios, source: Dok. Pribadi


3. Kopeng
Saya tidak tahu betul ini nama jalan atau apa. Yang jelas tempat ini sangat menarik. Jaraknya lumayan jauh dari Ketep pass dan harus melalui trek yang tak  mudah. Jangan lupa untuk berfoto di Hutan pinus di sisi kiri jalan untuk mendapatkan background yang tak biasa. Namun jika tidak memungkinkan, bisa juga mencari spot lain yang juga tak kalah menarik. Misalnya, hadapkanlah wajah kita kearah utara, lihat betapa dekatnya kita dengan pegunungan. Dari sini, Merbabu terlihat sangat jelas. 

Lokasi pertama yang saya tuju adalah pasar. Disini, harga sayur sangat jauh lebih murah dibandingkan dengan harga-harga di kota. Kemungkinan besar karena disinilah letak ladang mereka. Sodaraku tertarik untuk membeli  kentang kecil beberapa kilo, dan jangan tanya murah harganya.

Sekembali melanjutkan perjalanan, hamparan pedagang buah dan bunga berjajar rapi. Warna kuning dari labu kecil yang baru saya jumpai meberikan efek warna menyegarkan pada kios tersebut. Bibit-bibit bunga juga sangat mudah dijumpai, dan tentunya dengan harga yang sangat miring, bahkan hampir jatuh, hehe. Percaya enggak percaya, harganya ada yang IDR 1K loh.. Seru banget kan?
Buah berjajar rapi, source: Dok. Pribadi

Bibit tanaman, source: Dok. Pribadi


Lokasi yang menjadi tujuan kami memang sedikit, namun selama perjalanan kami merasakan sensasi yang luar biasa karena disuguhkan pengalaman dan pemandangan yang sangat anti-mainstream.

Hana: Rin.. udah pernah ke JCM.. kalo belum, ayo kesana...
Ririn : Ayo nda...

Sepulang dari Magelang, kami langsung menuju Jogja City Mall, sekadar melihat-lihat saja dan menghilangkan rasa penasaran Ririn.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya sampai juga di kos. Kembali dengan rutinitas padat dengan view ala metropolitan. Sejak itu saya berpikir, kalau penat, tak ada salahnya untuk mencoba mengeksplor Magelang bersama teman-teman untuk membuat pikiran menjadi rileks.
Salam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar