Kamis, 09 Juli 2015

Sudah siapkah?

Dok. Pribadi; Zahra
Aku bangga menjadi seorang wanita. Wanita itu spesial. Hanya wanita yg dapat mengandung dan melahirkan, syurga ada dibawah telapak kakinya (ungkapan umum yang digunakan orang-orang sebagai lambang banyaknya aktivitas yang mendapatkan pahala jika berinteraksi dengan seorang ibu), jika menjadi istri dia ladang syurga suami, Dia perpustakaan pertama untuk anak, dan istilah2 banyak yang menggunakan kata "IBU" (Ibu kota, ibu jari, dll), wanita diperlakukan khusus, wanita baligh diberi keringanan tidak menjalankan shalat selama haidh, dan masih banyak lagi.

Namun aku kembali merenungi, sedikit sekali ilmu yang sudah aku kantongi. Usiaku hampir 21 tahun, dan seharusnya sudah bersiap-siap untuk menjadi seorang ibu. Kenapa?? Karena nantinya ibu lah perpustakaan sekaligus sekolah pertama untuk anak, dan anak bertindak sebagai murid tentunya akan menyodorkan banyak pertanyaan untuk menuntaskan penasaran kepada sang guru.

jangan-jangan nanti anak menanyakan hal yang paling mendasar saja tidak bisa menjawab.
"bunda, bunda... Allah itu siapa? Allah itu dimana? kenapa kita harus shalat? puasa itu apa?" dan masih banyak pertanyaan anak-anak yang "nyelekit" dan kadang bikin ibu jadi harus ekstra memutar otak.

Dan jika hal tersebut tidak dipersiapkan dari sekarang, kapan lagi?? apa nanti setelah menikah?? telat keles..
kadang saat aku ingin mendiskusikan bagaimana menjadi seorang ibu dengan teman-teman seangkatan, tak jarang mereka memilih untuk menyudutkan..
"Ciyeee hana sudah ngebet nikah ya?"
Yaelah.. niatnya pengen sharing sebagai para calon ibu, eh niat terkubur gara-gara tersudutkan.

Menjadi seorang ibu bagi wanita bukan merupakan pilihan, melainkan kodrat. Persiapan-persiapan kecil ataupun besar memang harus diperhatikan. Anak merupakan aset dan generasi yang harus dicetak dengan sungguh-sungguh sejak awal.

Kehidupan semakin berat, lingkungan semakin mengkhawatirkan, zaman terus bergerak, jika tidak disiapkan jangan-jangan kekerasan terhadap anak semakin meningkat, sebab kurang kesiapan seorang ibu untuk menjadi ibu.

Naudzubillah min dzalik.

1 komentar: