Sabtu, 14 Februari 2015

koperpacker


kali ini aku akan cerita tentang pengalaman kamseupayku yang sok abroad2 gitu lah. ditemani Nisa, si Medan Tulen yang nggak ketinggalan logat Medannya. kebayang kan dengar celotehan Medannya dalam keadaan darurat?
Cerita ini bakalan mengupas tuntas kisah perjalanan ke Singapore setajam silet, #ala mata melotot ngeliat duit segempok. perjalanan sekitar 6 hari; 2 hari Singapore, 4 hari Malaysia dengan budget maksain bin kere bin ecek-ecek bin kanker dengan itinerary yang lengkaaaap banget gaya2 kamus Indonesia-Inggris yang katanya 200 Milyar. whatever lah, yang jelas budget ala mahasiswa Jogja.
Usut punya usut, gini nih awal mula kita berangkat yang keberangkatannya nggak terduga. September 2014, tepatnya semester 3 lalu, penyakit langgananku, vertigo-yang kata kawanku diplesetin indigo-kumat lagi. nah,, perlu rehat total toh? siapa sih yang nggak bosen baring seharian nggak ngapa-ngapain? sok2 nanyain, padahal aku sendiri bakalan jawab paling kenceng dan nunjuk tangan paling tinggi "Saya Pak, sayaaaa". iseng2 aku buka website airasia.com dengan rute perjalanan Yogyakarta-Kuala Lumpur, kaget bukan kepalang ngeliat harga 500ribuan. Macam mana pula nggak kaget, orang harganya sama kayak aku balik ke Bali. aku kabarin lah Nisa.
"Mahaaaaalllll..." yaelah nis, udah lebih murah dari tiket ke Bali, kali. yasudah tenang,, tenang,, aku ngikut aja gimana cari alternatif lain. akhirnya setelah berunding 7 hari 7 malam dengan 7 kembang serupa tapi tak sama, sepakat buat ngakalin terbang ke Johor Bahru dengan harga 255rb, langsung joss ke Singapore, joss lagi ke Kuala Lumpur kalo dah bosen di Singapore. nah, pulangnya kita ngambil rute KL-JKT, soalnya ada urusan penting di Jakarta; ngunjungi neneknya Nisa. Pas di Agen Air Asia Bandara Adi Sutjipto, harganya alamaaaaaak, sejutaan broh. kumat deh jiwa emak-emaknya yang mendatangi semua agen buat dapet harga semurah-murahnya, kalo bisa gratis sekalian. Di agen Lion Air, aku ditawarin harga 350ribuan dg bagasi 20kilo. tanpa pikir panjang aku telfon si Nisa. "Nis, harga 3ratusan, gimana? ambil tak?" IYA HAN, IYA,, BISA JADI BISA JADI. #masih jaman ya eat Bulaga?
akhirnya aku ambil itu tiket, tapi kalian tau pemirsa, apa yang dijawab mbak-mbak loket itu? jedeeeerrrr.. "maaf mbak, harga tiketnya udah naik, sekarang yang termurah di harga 560ribu, gimana? saya booking dulu biar nggak naik lagi harganya" "oke mbak.. saya nggak ingin semua yang sudah terjadi  terulang kembali, saya terima semuanya dengan lapang dada"
Fix, berangkat 19-26 Januari 2015. Dan kita berdua belum punya paspor. Akhirnya kita mutusin bikin paspor 3Minggu sebelum keberangkatan, dan jadi seminggu kemudian. daaaann.. taraaaaa,, jadi deh paspor ijo kecil yang unyu, ditambah wajah khas keibu-ibuanku di kolom foto.
oh iya, Nisa punya kaka yang tinggal di Singapore yang membantu kita membooking penginapan, ya maklumlah, kita orang nggak punya kartu kredit buat mesen. aku nuker uang sejuta buat Singapore, dan sejuta lebih dikit buat Malaysia, dengan kurs waktu itu RM1=Rp. 3600 dan S$1=Rp. 9600.
Ini penampakan duitnya


beberapa Minggu sebelum keberangkatan, tepatnya tanggal 28 Desember 2014, maskpai Air Asia rute Surabaya-Singapore jatuh di perairan selat Karimata. makjleb banget kan, gimana ini?
doktrin buruk datang dari setiap sudut yang bikin kuping panas, pas banget lagi musim ujan melengkapi kekhawatiran. Dalam hati sempat berpikir, "nggak usah berangkat lah". mana si Nisa bilang, "Han, siapin fotokopian paspor sama KTP, kita nggak tau ajal kita dimana, kalo ada identitas, nanti bakalan gampang proses identifikasi, jangan lupa diplastikin biar nggak basah" Ni si Nisa sudah ada firasat apa gimana sih? bikin tambah takut aja.
akhirnya dengan segenap kekuatan, berangkatlah kita ke Bandara dan hampir ketinggalan pesawat, gate nya udah mau ditutup brohh,, dengan kecepepatan 80Km/jam, aku lari ke pesawat. Di dalam kabin pesawat baru sempat menelepon orang tua, minta restu perjalanan dan siap terbaaaang.
sedikit ngebayangin ngerinya dalam pesawat yang saudaranya jatuh kemarin di selat Karimata, mana lama banget lagi; 2 jam.
"Allah mengikuti prasangka hamba-Nya", 5 menit setelah lepas landas, hal yang aku takutkan terjadi. pesawat yang aku tumpangi mengalami turbulensi. dan akhirnyaaa pesawatnya turuuun,,, naiiiik,, semua penumpang bersorak, huu haa.. mulutku segera komat kamit dengan doa yang aku hapal, doa makan pun ikut masuk ke dalam rangkaian doa ku.
2 jam kemudian..
Alhamdulillah, landing juga..
Senai International Airport, Johor Bahru
                                           


Sesampai di Bandara, aku langsung ke kantor imigrasi, menyerahkan paspor, dan tiba-tiba "ente nak melancong e?" pertanyaan berkecepatan tinggi itu mengagetkanku dan bikin bingung, ibu itu ngomong apa sih? mungkin ibu imigrasi itu curiga saya teroris atau TKI kali ye? ngeliat busana yang aku pakai lumayan panjang dan tertutup, tapi bagiku, apapun hinaan orang, dimanapun kita berada, identitas muslimah haruslah tetap dipegang dan konsisten.
Lolos imigrasi, kita langsung keluar dari bandara dan ngelirik orang-orang, kemana mereka pergi setelah turun dari bandara, dan banyak diantara mereka yang langsung naik bus yang bertuliskan "Causewaylink" dan alhasil, kita ngekor di belakangnya. setelah beberapa menit bertanya-tanya dengan sopir untuk memastikan bus yang kita naiki benar ke arah Singapore, akhirnya kita menimbulkan antrian berekor yang bikin mereka bisik-bisik, mungkin ngomongin kita, PeDe akut, lalu kita membayar RM3,5.
Setengah jam perjalanan, sampailah kita di terminal Larkin. disini kita harus naik bus lagi yang jurusan Woodlands-Singapore-dengan bus nomor 170 biaya RM1,5 dengan total transportasi ke Singapore RM5 atau sekitar Rp. 18.000. Sepuluh menit berlalu, kita disambut dengan sunset di perbatasan Malaysia-Singapore, rasanya lelah tadi sedikit terbayar.
bus 170

Sunset perbatasan Malaysia-Singapore

15 menit kemudian, kita sudah tiba di Woodlands-Imigrasi-Singapore. Nah, dengan wajah innocent, kita nyelonong aja ke pejabat yang ngasi stempel, alhasil kita disuruh mundur lagi karena harus ngisi formulir sebelum masuk Singapore. alamaaaak, dengan bahasa Inggris yang pas-pasan, kita udah kayak ngisi soal Ujian Nasional, dan setengah jam baru kelar boooo.
Lolos Imigrasi, Nisa sudah janjian ketemu sama kakanya-katanya pake baju merah- di bagian luar kantor Imigrasi. turun dari imigrasi, kita sudah sangat mirip dengan ayam kehilangan induknya, pulsa nggak ada, yang jual Simcard nggak ada, nisa pun nggak tau sama kakanya, yang parah lagi, kita nggak tau arah luar imigrasi, gede banget brohh kantornya, akhirnya kita mutusin buat nanya bule, eh sekarang kita yang bule ya? yaudah ralat, kita nanyain native disana, dengan bahasa Inggris logat Indonesia, alhasil diapun nggak ngerti dan cuma bisa planga plongo ala galau-ers ngeliatin kita ngoceh, yaelah,, akhirnya kita cari orang Melayu yang lebih mudah kita pahami, karena bahasa Ibuku adalah bahasa Melayu, jadi Melayu isn't a problem for me (sok banget). dan taraaaa... akhirnya sampai di bagian luar Woodlands setelah keliling kesana kemari atas bawah, nggak sampai disitu, kita kembali planga plongo karena nggak bisa ngapa-ngapain. Dengan ide kreatif si Nisa dengan meminjam telfon ke orang-orang sekitar sana, setidaknya membantu kita terbebas dari planga plongo, ya sedikit memberi kegiatan lah meskipun hasilnya nihil sama sekali.
"Mas, boleh pinjem Hp, kite orang nak telfon kaka, kite dari Indonesia dan belom punye simcard" dengan ala2 Melayu gaje, Akhirnya nisa dipinjamkan hape meskipun dalam hati sempet bertanya-tanya, kok si nisa panggil Mas? emangnya Singapore itu sebelah mananya Jawa sih?
Nihil.. bingung.. bolak balik plototin ribuan orang yang pakek baju merah, sejam kemudian, akhirnya,, Alhamdulillah, ketemu dibawah tangga kantor imigrasi. untung nggak ketemu dibawah alam sadar. Next, kita naik bus untuk ke stesen/stasiun Woodlands untuk naik MRT (monorail) ke Chinatown-tempat yang akan kami tempati-dengan membawa kesana kemari koper ala Indonesia kami, akhirnya aku sebut perjalan ini dengan "koperpacker".
Sejam perjalanan, pukul 21.00 waktu setempat, tibalah kami di Chinatown, ini sedikit penampakannya.



nah, ingin tau kelanjutan kisahnya, nanti nyambung ke koperpacker #2 ya?? check it out..


1 komentar: