Selasa, 17 Februari 2015

Koperpacker #2

oke, lanjut cerita kemarin yang koplak nggak ketulungan itu, pagi-pagi kami sudah berkemas siap ngebolang di negeri antah berantah ini. belum abis koplak kemarin, Si Nisa sudah bikin perut jadi lemes aje gara-gara ngetawain. bayangin boooo... jauh-jauh ke luar negeri cuma buat ngisi KRS, aje gileee, deket UIN warnet udah penuh kali ye? 

--Hari Pertama--
fix kita berangkat jam 10 waktu setempat buat menjelajah dengan itinerary yang sudah kita susun secara lengkap dan detail, berangkat lah kita berbekal peta, peta?? kita dah macam Dora, cuma bedanya kita lebih sering ganti baju daripada Dora yang nggak pernah sama sekali.
sebelum ke spot yang jauh-jauh, kita sedikit mengelilingi Chinatown yang menjadi lokasi penginapan kami. tak hanya kampung China, daerah dekat sini juga ada beberapa spot yang bisa dijadikan objek tujuan, meskipun sedikit berkhianat karena lokasi itu nggak masuk dalam itinerary yang lengkap kayak kamus Inggris-Indonesia 200milyar. ini dia tempatnya, taraaaa
Sri Marriaman Temple


Chinatown pagi hari

Masjid India
Oh iya, sedikit informasi, air-air kran di Singapore ini sudah sangat higienis, jadi tak jarang kita ngeliat orang yang langsung minum dari tempatnya. nah atas dasar inilah, jauh-jauh dari Indonesia aku bawa botol, ya sekalian ngirit kan, ingat prinsip backpacker, hemat jeng,,hemat #tepok jidat. setelah sedikit ngabisin waktu di tempat-tempat tadi, akhirnya kita pergi ke closest station, Chinatown. Bingung juga sih gimana cara memahami rute-rute yang bakalan kita ambil, belom lagi station ini ada 4 lantai, gila, dalam hati sempet nanya juga sih, ni orang Singapore gimana ngeruk tanahnya ya? jangan-jangan pas naik monorail, tanahnya runtuh lagi, dasar ndeso, hal nggak penting pun dipikirin juga. Setengah jam melototin papan, aku mulai paham rute mana yang harus aku ambil. 5 Menit nunggu, monorail yang bakalan ngangkut aku dan Nisa pun datang, kecepatan melesat yang sudah aku pelajari dari karate aku aplikasikan buat masuk train, ceile,, next spot adalah little India. tak lebih dari 10 menit, kita sudah sampai di lokasi. nah, keluar dari monorail, kita harus naik ke lantai pertama untuk keluar dari stasiun, pas lagi jalan, tiba-tiba Nisa nanya, "Han, ada kebakaran ya?" *cemas
wajar lah nisa bilang gitu, bayangkan, ratusan orang yang hilir mudik bererbut jalan bak yang paling sibuk sedunia, belum lagi gaya berjalan cepat yang menjadi ciri khas pejalan kaki negara maju. Ini lebih mirip orang yang nyelametin barang pas pasar lagi kebakaran kali ye??
"excuse me mr, how to get Little India from here" sok2 Inggris dan sedikit huruf "R" nya diilangin, dan akhirnya beneran ilang. "oh, you are in Little India right now". mungkin maksud bapak itu kita udah ada di kampung India kali ye? aku pikir little India cuma nama tempat. eh buseeet, kalo gini critanya, mau kemana ini?
"Cha, kita mau kemana ini?"
"Kita jalan aja han, dimanapun nanti tembusnya"
5 menit jalan kaki, kita nemuin food court dan cacing-cacing dalam perut berusaha menghasut otakku, "Ayo hana, belilah,,beli,, kau dah lapar kan?"
akhirnya aku lambai tangan di kamera, nyerah mas..nyerah.. dan taraaa, dari sekian stand makanan, aku lebih milih murtabak chicken jadi santapan siang ini.
"I wanna Murtabak Chicken, one only" ha? Inggris logat apa ini?
"tak pesen yang S$6 sekali, kau orang boleh makan bedue" yaelah, bisa Melayu cakap dari tadi keles pak, ketahuan deh kacaunya Inggrisku.
"yelah tu pakcik, saye ambek yang besar sikit"
5 menit kemudian..
Murtabak Chicken With Kari
Rasanya? Mmmm.. aneh, #ngelirikliciklalulupakan
Setelah berusaha menelan beberapa suap, aku kembali melambaikan tangan di kamera, nyerah mas,,nyerah, dan Nisa pun menyusul. Emang dasar sih porsi orang India, aku pikir ini bisa dimakan 4 orang. Mana rasanya nggak pas sama lidah ndesoku
"PakCik, boleh minta plastik tak? tak habis lagi makanan kite, banyak sangat ni"
"oh, kau orang tak abis lagi ye?boleh..boleh, mari bawa sini, biar pakcik kemaskan"
akhirnya.. kita mutusin buat bungkus sisanya, lumayan buat persediaan nanti sore. Inget prinsip backpacker #tepokjidatlagi
siap makan, kita melanjutkan menjelajahi desa India ini. Benar.. kira-kira 80% penduduk disini orang India. iyalah.. kalo orang Jawa, jadi kampung Jawa lah namanya, akupun mentertawakan statement yang aku buat sendiri ini.

"Mustafa Centre" tertulis dalam peta yang bisa dijadikan spot selanjutnya. Dengan bertanya sana-sini, dengan Inggris kacau, ditemani bau rempah khas India yang sedikit bikin Vertigoku kumat, akhirnya kita sampai di lokasi. Ternyata, MustafaCentre itu semacam pusat perbelanjaan, kirain museum-musem dkk gitu. tapi tak apelah, seru juga perjalanannya.
Mustafa centre building



lokasi sekitar
sediki berkeliling, kami mutusin buat ngelanjutin perjalanan karena masih banyak yang harus kami jelajahi hari ini. kembali ke MRT station, kami melanjutkan perjalanan dengan monorail, lokasi selanjutnya Bugis street, katanya disini tempat belanja oleh-oleh yang murah. Dengan stamina yang cukup stabil, aku mengumpulkan kekuatan jiwa emak-emak, kayaknya lokasi ini  bakalan ngabisin waktu yang cukup lama. dan benar saja, hanya untuk membeli miniatur sebanyak 2 biji, kita harus berkeliling-keliling dan beberapa kali menawar dengan sadis. Finish.. kita dapat S$5 untuk 2 biji.
"Cha, Perpus yok, mau baca buku ni, eh, cuma pengen liat-liat sikon perpus disini aja"
akhirnya kita mutusin buat ke perpus nasional, lokasinya nggak jauh dari Busgis Street, jalan kaki 10 menit udah nyampek. saking capeknya atau efek kelaparan, "excuse me, where is The National Library?"
"you can see that" alamaaaak, perpusnya udah di depan kita, yaelah sekate-kate ni mata.
bak laki-laki yang ngeliat perempuan aduhai, mataku memandang detail dari bawah, sampai gedung paling atas, dan tak sadar aku udah berada di posisi kayang saking tingginya, #alay
Aku mendekati pustakawan dan mencoba minta gambar dengannya, tapi jawabannya makjleb banget,
"Excuse me Miss, Could I take a picture with u please, I'm from Indonesia and took Library Informaton Science major, I wanna see all of this Library and know Librarian a little bit"
dengan senyum pepsoden dia jawab "I'm Sorry, no camera here, u can see that (sambil nunjuk cctv dipojokan) and I m glad too meet u, that's good major."
Yelah tu, sembari lambai tangan di kamera cctv, aku mutusin buat ngeliat-liat aja, nggak jadi deh ngambil gambar sama pustakawannya. tapi aku akan tetap ambil gambar di ruangan ini apapun yang terjadi, nggak peduli ada cctv atau nggak #mukaliciklaluhening
Library Building

Collection room

Collection room for children

Nah ada kejadian lucu dikit nih gara-gara tingkah partner perjalananku yang sedikit koplak. Kita semua udah tau kan kalo Singapore itu main denda-denda aja kerjaannya, beda banget sama Indonesia yang ada sistem denda tapi nggak terorganisir baik. denda disana nggak main-main lho, S$1000 booo cuma buang sampah, dan tegas dijalanin. bakalan jadi TKI ni kalo kena denda segitu, dengan begitu ceritanya TAMAT. *eh
Lepas dari Perpustakaan, kita mau nglanjutin perjalanan Ke St. Arab, nah setelah kita tanya-tanya, ternyata bisa ditempuh dalam waktu lebih kurang 15 menit, lumayan bikin gempor kaki yang emang sudah gempor ini. 
"Han. kakiku lecet nih dibelakangnya," dengan kecerdasanku yang luar biasa oon, "Ni cha, pake'in tisu aja, tadi sudah aku bilang pakek kaos kaki biar nggak lecet" (padahal kalo tali belakang sendalnya diinjak pakek tumit, masalahnya bakalan kelar). Akhirnya dipakeklah tisu buat nyumpal luka lecetnya Nisa. Sekitar 5 menit kemudian, nisa bilang "Han, kok masih perih ya?" trus pas kita liat belakang kaki NIsa, eh tisunya udah nggak ada, dan aaaaaaa... tisunya terbang. dalam pikiranku langsung kebayang S$1000, dengan kekuatan badai dan matahari, kita berdua lari-larian ngejer itu tisu dan tiiiiiitttttt... klakson mobil bunyi-bunyi ngeliat kita hampir nyebrang sembarangan. "mampus kita Cha, S$1000.. Jangan-jangan kita nggak bisa pulang lagi," *cemastingkatdewakemudiantidur
"Kau liat cctv nggak han, kita kabur aja yuk" akhirnya kita melarikan diri dari incaran polisi (loh, mana polisinya?)
Nah, usut punya usut, kasusku tadi itu nggak termasuk buang sampah sembarangan karena ada unsur ketidaksengajaan. Yaelah, udah bela-belain lari sekuat tenaga yang disambut tatapan aneh native disana-mungkin kita dikira korban Maklampir yang lagin nyelameti diri-eh ternyata bukan termasuk kasus. Sekate-kate ni aturan Singapore. Tapi aturan-aturan semacam ini yang bikin Singapore jadi terorganisir sangat baik, dan menembus jadi salah satu negara maju dari Asia Tenggara.






1 komentar: