Jumat, 27 November 2015

Tak merasa gagal dalam kegagalan

Dingin masih bersahabat baik dengan malam. Bintang-bintang berkumpul di ufuk barat dan enggan berpindah ke atap langit Sapen.
Jam di pojok atas hp Rosi sudah menunjukkan 00.00 tepat dan mulai bergerak ke menit pertama. 
Rosi yang sedari tadi terjaga tiba-tiba mengatupkan matanya perlahan. Ketiduran.
"loh..loh... jam berapa ini? waduh ketiduran." dia kaget lalu mulai mencari-cari hp nya. Pandangannya berhenti di sebelah bantal. Dalam semenit, dia sudah membuka website student mobility dan mencari-cari namanya. "yesss... urutan 49,, banyak juga yang diterima, ada 162 orang, dari Gunanegara berapa ya??"
jari telunjuknya terus turun naik di atas layar handphone LG miliknya, mencari2 teman sekampus yang diterima. 
---
"Sebentar ya.. essayku belum selesai, sini lah ke naik ke lantai 3, bentar lagi masuk nih." Rosi mengeraskan suaranya. "Iya, aku lagi ngurus surat di TU, kamu masuk duluan aja." Irfan menengadahkan wajahnya ke atas, menimpali Rosi.
"Ya sudah, aku ke kelas duluan ya... bye." Rosi melambaikan tangan dan melangkah ke ruang 302, ruangan kuliahnya.
Klik... sent... "beres... tinggal nunggu hasil nih, god bless for everything, amin.." Dia mengirimkan berkas-berkas ke event Indonesian Youth Dream (IYD). 
Tiba-tiba handphone nya berbunyi,, pesan dari Ihsan.
"Eh, tumben dia sms, ada apa ya?" dengung Rosi dalam hati.

 _Rosi, kamu diminta bu wahyu buat ikut beasiswa student mobility_

_oh gitu, tengkyu ya infonya_

Dia langsung mencari-cari info tentang student mobility lewat google. "Oh i see, beasiswa nih, ke Autralia pulak, mayaaaaan.. ikut lah,"
Dia mulai menyiapkan berkas2 yang dibutuhkan. Dengan niat dan usaha, mengirim berkas online terasa lebih enteng. Klik.. Sent.. "Oke, 2 program selesai, tinggal nunggu hasil."

----
Sebulan setelah mengirim berkas, akhirnya Pengumuman delegasi yang lolos dalam Indonesian Youth Dream diumumkan.
"Gimana Ros? IYD mu lolos?" Irfan menanyakan serius, alisnya terlihat mengernyit sebelah.
Rosi melangkah dengan loyo, wajahnya terlihat lesu dan lelah. Tak jauh beda dengan pelari yang telah selesai berlari sejauh 10 kilometer. "Gagal bang, belom rejeki."
"ah, tumben kau loyo kayak gini, semangat lah sikit.. Belom berakhir. Nanti ikut lagi event2 sejenis, mana tau lolos di event yg lebih bergengsi." Irfan yang sudah menganggap Rosi sebagai adik tak henti-henti menenangkannya.
"Tapi kan... ya sudah lah," Mereka melangkah beriringan ke kantin. Sedikit melepas kekecewaan yang baru saja yg dialami.
---
"Student mobility lolos ni bang, tes interviewnya seminggu lagi. kayaknya sih di Semarang." Rosi membuka pembicaraan sembari memainkan smartphone nya. Pohon Rindang di taman kampus dengan senang hati menaungi mereka dari panas. Tempat duduk yang ada dibawahnya menjadi pilihan, ditemani jus mangga yang dibelinya di kantin. 
"hah? are you sure? trus trus? pendaftarnya berapa? yang lolos ke tahap interview berapa??" mendadak Irfan jadi wartawan anarkis. Dia sedikit melototkan matanya yang sipit, hidungnya yang mancung terlihat kembang kempis mendengar berita dari Rosi.
"Yaelah, sabar napa bang, yang mana ni mau dijawab dulu?? pendafrarnya sekitar 4000 ribu orang, yang lolos ke interview ada 162 orang." Rosi masih saja terpaku pada layar smartphone nya.
"Wooohooo hebat parah, gimana ceritanya? essay mu judulnya apa?"

"entah, kayaknya nasib aja deh. Aku sih nulis essay judulnya the role of university student for our nation."

Hari ini Rosi mendapat sedikit pencerahan. Dia gagal lolos dalam event Indonesian Youth Dream yang diumumkan sekitar sebulan lalu, tapi ia berhasil masuk ke dalam 162 orang dari 4174 orang yang mendaftar, itu berarti lebih kurang ada 4000 orang yang tereliminasi.
Dia optimis, rasa syukur tak henti-hentinya ia utarakan kepada Tuhan, sembari menata lagi penolakan yang ia terima saat IYD waktu itu.

---
Hujan tak ingin turun dari peraduan di langit sana. Hanya mendung yang tampak pagi ini.
Rosi mengemas apa-apa yang sekiranya ia perlukan. Ia menjadi delegasi organisasinya untuk datang ke Solo, menghadiri undangan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang akan mensosialisasikan ISSN (International Standard Serial Number) Online. 
Iseng-iseng ia membuka whatsapp, dan ternyata ada pesan dari Abid, teman seangkatannya. Ia heran, karena memang sebelumnya ia tak pernah komunikasi lewat media sosial. 

_Ros, ada salah satu delegasi yang mengundurkan diri di IYD. Sebenernya, kamu masuk ke dalam daftar waiting list. Kira2 kamu mau nggak gantiin delegasi yang berhalangan tadi?_

Oke fix, pagi ini ia tak mampu mengungkapkan apa yang ia baca. ia sempat terpukul waktu itu, karena sangat berharap bisa jadi delegasi di acara IYD. Ia menganggukkan kepala dengan girang setelah selesai membaca pesan whatsapp. 

_Dengan senang hati bid, jadi.. apa yang harus aku persiapkan?_

_Tolong kirim emailmu, nanti penjelasan lanjut akan aku kirim kesana_

_Ini serius? nggak mimpi kan?_

_Hehe enggak, selamat ya.. sekarang kami resmi menjadi delegasi Bali, selamat bergabung dengan teman-teman Bali lainnya. Mari bersinergi bersama delegasi-delegasi seluruh nusantara._

oh god... gimana cara ngungkapin ini? Seakan keajaiban baru saja terjadi. Ia menengadah ke langit, teringat pesan ibunya saat ia masih duduk di bangku SMA yang masih saja terbayang dan diingat. 
"Kalau kau tidak mencoba, kau sudah tau jika kau pasti gagal. Tapi jika kau mencoba, kau tidak tau keajaiban dan nasib baik kapan akan berpihak. Coba terus, maka kau akan tau rasanya berjuang."

"Jadi ini makna dari pesan ibu waktu itu." Ia mengangguk pasti, membayangkan wajah ibu tersenyum dengannya. 
Ia mulai melaju dengan motor tuanya ke Solo, bersama delegasi lain yang turt serta.

---
Hari itu tiba, hari dimana Rosi harus menghadapi Tes interview di kampusnya. Peserta yang berasal dari Jawa tengah dan Yogyakarta mengikuti tes di Universitas Gunanegara yang terletak di pusat kota Yogyakarta.
"Kau siap Ros?" Irfan melirik ke arah Rosi dengan nada menggoda.
Irfan senantiasa menemani Rosi dalam keadaan-keadaan sulit dan grogi semacam ini. Dia selalu berusaha menetralkan suasana dengan cara apapun.
"Apaan sih? nggak liat ni tanganku gemeter.." Rosi mendorong Irfan pelan, sembari menunjukkan wajah cemberut. Irfan tak kuasa melihat wajah grogi Rosi, lantas tertawa terbahak-bahak. Namun tawa itu langsung ia hentikan, karena peserta interview lain menatap kejam bak ingin menikamnya dengan segera.
Kali ini Rosi yang mengejek balik, ia senyum-senyum penuh kemenangan.
"Rosi Salsabila" Ibu Tim interview memanggil namanya, menandakan ia harus segera berhadapan dengan interviewer, bersiap dengan beberapa pertanyaan mematikan yang tentunya full English, karena memang ini adalah beasiswa ke Australia yang menggunakan Bahasa Inggris.
Irfan menggiring kepergian Rosi dengan senyum terhangat yang ia punya. "Semangat!!" bisiknya pelan, lalu mengepal tangan pertanda dukungan. Rosi berjalan lurus memasuki ruangan dengan tegap. Ia gugup.

---
_Bang aku gagal masuk student mobility. Tapi aku akan berusaha lebih keras mencoba beasiswa lain. Aku berangkat dulu ya, Doakan event IYD ku berjalan lancar._

Rosi mengirimi pesan singkat ke Irfan sembari tersenyum tenang. Dia ikhlas menerima kegagalan, bahkan ia tak merasa gagal sama sekali.
Ia baru saja menerima pengumuman Student mobility. Peserta yang lolos hanya 27 orang dari 4000 pendaftar, dan namanya tak ada disana. Tapi ia tak menyesal. Setidaknya ia berhasil masuk ke dalam 162 orang terpilih. Ia berjanji akan bersaing lebih serius lagi.
Kakinya melangkah mantap menaiki bus yang sudah ada di depannya. Hari ini pula, ia bertemu dengan 120 pemuda delegasi dari berbagai daerah di Indonesia dalam event Indonesian Youth Dream (IYD). delegasi dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa. 120 delegasi ini dipilih dari lebih kurang 1200 pendaftar. Delegasi ini datang dari berbagai daerah dengan mimpi-mimpi besar. Mimpi ini akan dikolaborasikan dengan delegasi lainnya.

---
Jika kau tidak mencoba, kau sudah tau pasti akan menemui kegagalan. Jika kau mencoba, Kau tak akan tau keajaiban akan datang kapan, barangkali disitulah nasib baikmu.

"Setiap orang memiliki jatah gagalnya masing-masing. Habiskanlah jatah gagalmu ketika kamu masih muda" -Dahlan Iskan
Dok. Pribadi

1 komentar: