Balik kiri.. Balik kanan.. balik kiri lagi, lagakku macam di
sinetron-sinetron. Aku masih belum bisa memejamkan mata, bahkan masih
menyadarkan diri bahwa esok adalah benar-benar esok. Esok tanggal 27 September,
hari yang sudah tertera di tiket pemberangkatan Banyuwangi-Surabaya. Ngambang..
nyata tetapi masih seperti mimpi aku harus kembali ke rantauan. Jam 3 pagi aku
berhasil memejamkan mataku berharap esok tak pernah menjadi esok. Namun
sia-sia, waker di hp yang sengaja aku setting di pukul 04.30 berdering tanpa
ampun. Tas-tas yang akan menemaniku sepanjang perjalanan sudah berderet rapi di
kamarku. Aku bersiap-siap penuh kemalasan.
Ibuku sudah berkemas dari tadi, tak lupa mempersiapkan sarapan
karena beliau juga turut mengantarku sampai ke statsiun, pun Sultan sepupuku
yang masih kecil merengek hendak mengantarku.
Sampai di atas kapal aku masih tidak enak hati, terlebih saat
menatap wajah ibu.. Berat sekali rasanya akan berpisah beberapa bulan dengan
beliau, tapi mau nggak mau ya harus mau. Jam di stasiun menunjukkan pukul 08.00
WIB, sejam lagi keretaku bergerak menuju Surabaya.
“Kenapa jam ini berputar sangat cepat, oh Allah..” aku ingin
berlari pulang, ikut bersama ibuku. Tapi aku malu dengan usiaku, harus terlihat
tegar di depan wanita yang paling tegar itu. 15 menit sebelum keberangkatan,
aku diantar ibu sampai ke tempat check in dan berusaha memendam air mata.
Kunaiki kereta dan mencari tempat duduk yang tertera di tiket, 2C.
“exactly,,” desisku sambil mencocokkan tiket dengan nomor kursi yang
tertera di depanku dan kuamati beberapa kali.
Hari ini aku pergi menuju Yogyakarta, dengan mengambil Rute
Banyuwangi-Surabaya, Surabaya-Yogyakarta. Ganti kereta api pula. Sebenarnya ada
sih kereta api yang langsung ke Yogyakarta, Cuma... terlalu sesak untuk
perjalanan jarak jauh. 6 orang tak dikenal duduk berhadapan selama 14 jam,
lutut-lutut saling bertemu, haish.. nyerah aja lah!!
Kereta api mutiara timur mulai bergerak, jam berganti jam terus terlewati.
Sawah dan perumahan terus berganti jadi view pagi ini sampai jam tanganku
menunjukkan pukul 15.30 WIB. Sampai di stasiun Surabaya, aku mengontrol diri
agar tidak seperti anak hilang, penunjuk arah yang sangat jelas membatuku
menemukan jalan keluar. Kereta selanjutnya adalah KA Bima. Hanya saja, kereta
ini datang sekitar 1 setengah jam lagi.
Untuk mengatasi rasa bosan, ternyata stasiun ini ada hiburannya
loh. Unik memang. Ribuan orang-orang yang sedang menunggu KA merasa terhibur
dengan kehadiran mereka. Nggak dipungut biaya sih kalau mau nonton, Cuma...
kalau memberikan uang seikhlasnya juga boleh kok, di depan mereka ada kaleng
yang mungkin sengaja mereka letakkan disana. Mereka digaji nggak sama pihak KA?
Kurang tau juga mbak-mbak.. mas-mas..
Stasiun ini besar banget, aneka jajanan berjajar disana. Aku
tertarik untuk mengunjungi Dunkin Donuts dan membeli donat kesukaanku. Donat
berlapis gula putih, dan di dalamnya ada coklat lumer. Masha Allah, enaknya ngalahin
nasi sayur yang ada di Jogja.. Beneran!!
“Monggo mbak..mas.. yang mau menaiki KA Bima silakan masuk”.
Petugas yang berjaga di entrance sudah mempersilakan penumpang untuk
masuk ke kereta, ya emang sih keretanya baru berangkat setengah jam lagi. Tapi aku
mutusin buat masuk aja langsung ke kereta. Lumayan buat tidur.. Keretanya
nyaman banget pemirsa, 11:12 lah sama pesawat. Mungkin formasinya mirip dengan
pesawat garuda bombardir, 2:2. Tempat selonjoran kaki, selimut, bantal, kursi
empuk, nggak bising, bikin betah aja berlama-lama di dalam kereta. Kamar
mandinya juga bagus bingit, nggak ada bau-bau yang bikin kepala pusing. Yang
hebatnya lagi, Jarak dari Solo ke Klaten hanya ditempuh setengah jam, padahal
biasanya sejaman. Waktu 5 jam perjalanan nggak berasa. Jam 22.00 WIB tepat, KA
Bima tiba di Stasiun kereta Api Yogyakarta. Aku ikut menghambur dengan
penumpang lain untuk keluar dari kereta.
Huaaaa... Welcome to Yogyakarta, siap-siap menjalani aktivitas
sebagaimana biasa.
judi sabung ayam
BalasHapus