![]() |
| sumber: http://kabarislamia.com/2014/10/05/manipulasi-media-massa/ |
Bisa dibilang kita "haram" untuk memusuhi media, terutama dalam format tv. Hal ini karena tv dan masyarakat adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan layaknya dua orang yang sudah terikat janji.
Bisa dibilang
perkeluarga memiliki setidaknya satu tv dan hitung saja berapa lama durasi yang
dihabiskan nuntuk menonton tv? Jika demikian, berarti tv sudah hampir bisa
dimasukkan ke dalam kebutuhan primer.
Akan tetapi, hal yang
paling penting untuk kita ketahui dan perhatikan bahwa tidak semua informasi
yang disajikan dalam media ini dapat memberikan manfaat secara kaffah.
filterisasi yang tepat sangat diperlukan untuk memperoleh unsur inspiratif dan
edukatifnya.
Coba kita flashback
sedikit ke belakang. Belum lepas dari ingatan kita hebohnya masalah pemilu
presiden yang hanya memiliki dua kandidat, sehingga terkesan negara ini dipecah
menjadi dua kubu. Dengan adanya kotak-kotak semacam ini, tentu saja media
seperti menghirup udara segar. mereka saling mengangkat dan menjatuhkan satu
sama lain.
Kita ambil saja salah
satu kandidat presiden, percaya atau tidak, dibelakangnya sudah berdiri 5
channel tv sekaligus. Memang mereka mengundang pakar yang seakan-akan bersifat
objektif, akan tetapi sudah barang tentu mereka menerima sugesti dari pemilik
stasiun terlebih dahulu yang memiliki kepentingan politik.
Dari sedikit cuplikan
diatas, sudah bisa diambil kesimpulan bahwa adanya konglomerasi yang terjadi
dibalik media.
Tidak hanya itu, media
juga terkesan plin-plan. Beberapa jam mengatakan bahwa hal ini demikian,
beberapa jam setelah itu kabar menjadi lain lagi. How come? jelas! ini karena
media sering membesar-besarkan suatu kabar yang masih bersifat
"kemungkinan", sehingga jika beberapa menit setelah kabar dihembuskan
dan ada kemungknan lain lagi yang tercium, secara otomatis berita tersebut akan
di update sesuai kemungkinan tersebut.
Beberapa hari yang lalu,
saya mengamati tayangan -tayangan yang ada di tv selama seminggu. Hasilnya ada
beberapa tayangan yang seharusnya tidak layak ditonton sesuai kualifikasi usia. Misalnya salah satu kartun "Spongebob". Dalam penilaian subjektif, kartun ini seharusnya dipruntukkan anak-anak usia 15 tahun ke atas. Karena anak dibawah usia tersebut masih belum paham dimana sebenarnya letak "kelucuan" dari kartun tersebut. Tidak hanya itu, anak-anak yang terkesan "manut wae" akan dengan mudah menerima karakter negatif yang ditayangkan dari kartu tersebut, misalnya kikir, bodoh, anti-sosial, dan sebagainya.
![]() |
| sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/09/27/260395/KPI-Bakal-Stop-Tayangan-Spongebob-dan-Tom-&-Jerry- |
Akan tetapi, siapa yang mampu mengharamkan media tv, Sumber
informasi tercanggih dan memuat informasi termutakhir ini?
Ya, meskipun banyak hal negatif yang bisa kita temui, tentu saja
unsur yang bersifat positif juga banyak. Beberapa tayangan sangat layak unuk
dikonsumsi, dan mampu memberikan unsur edukatif, inspiratif, dan informatif
secara seimbang. Saya ambil contoh acara reality show “jejak petualang”.
Menceritakan seorng petualang wanita yang berusaha meng-explore wilayah-wilayah
di Indonesia. Tayangan ini seobjekif mungkin mengupas suatu hal yang bisa
memberikan informasi dan inspirasi untuk orang lain, disamping memberi dampak
meningkatnya sikap patriotisme untuk masyarakat Indonesia.
Panjang lebar pernyataan tadi mengingatkan kita untuk bijak-bijak
dalam memilih tayangan. Apakah nantinya media tersebut hanya akan menjadi “tell
lie vision” atau akan menjadi sumber edukasi dan informasi yang bermanfaat. Semua tergantung konsumen media.
#IDKS
#IDKS



Tidak ada komentar:
Posting Komentar